Kompas.com - 12/09/2019, 12:36 WIB
Foto Habibie dan Ainun dalam salah satu ruangan di kediaman Presiden ketiga RI BJ Habibie di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. KOMPAS.com/SABRINA ASRILFoto Habibie dan Ainun dalam salah satu ruangan di kediaman Presiden ketiga RI BJ Habibie di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Ventral tegmental merupakan ‘pabrik’ yang menghasilkan keinginan, pencarian, energi, fokus, dan motivasi,” tutur Helen.

Kemudian, hasil dari penelitian tersebut, Helen menyimpulkan orang-orang yang merasakan cinta sejati seperti ‘mabuk’ secara alami.

Cinta sejati atau bukan?

Helen menyebutkan, cinta muncul apabila segala hal tentang orang tersebut menjadi spesial di mata kita.

“Cara dia berpakaian, cara dia berekspresi, buku yang dia sukai, semua hal tentang orang ini menjadi spesial,” tuturnya.

Anda sebenarnya punya daftar panjang tentang hal-hal apa saja yang tidak disukai mengenai orang tersebut. Namun, Anda lebih memilih untuk menyimpannya saja dan fokus terhadap hal-hal positif di depan mata.

“Kemudian muncul energi yang sangat intens dan mood swings yang diakibatkan oleh cinta. Rasa senang ketika semua hal berjalan dengan lancer, sampai kekecewaan mendalam ketika pesan singkat tidak dibalas,” tambah dia.

Baca juga: Habibie Wafat, tapi Mr Crack dan Teorinya akan Terus Hidup di Dunia

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Secara biologis, jatuh cinta membuat mulut menjadi lebih kering. Ada perasaan butterfly in my stomach, lutut yang lemas, ketakutan akan berpisah, dan keinginan untuk melakukan aktivitas seksual.

“Anda ingin orang tersebut untuk menelfon dan menulis pesan. Ada motivasi yang sangat kuat untuk mendapatkan orang ini. Seringkali dengan cara-cara yang luar biasa dan di luar akal sehat,” tutur Helen.

Lalu bagaimana cara kita mengetahui apakah sebuah cinta sejati atau tidak?

Gabija menuturkan bahwa sejati atau tidaknya cinta tergantung persepsi masing-masing orang. Hal yang mendasarinya adalah koneksi mendalam antara dua orang, yang merujuk pada komitmen dan kebiasaan-kebiasaan tertentu.

“Cinta yang memiliki keseimbangan besar yang bisa bertahan,” tuturnya.

Namun Gabija menuturkan, pada level emosional tertentu, cinta tetaplah merupakan sebuah brain chemistry yang berganti setiap waktu.

“Terkadang kita tidak merasakan emosi seperti cinta. Terkadang kita merasakan flat moments, yaitu di saat kita tidak merasakan apa-apa,” tuturnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Sumber Wired UK
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.