Kata Sains tentang Cinta Sejati seperti Habibie dan Ainun

Kompas.com - 12/09/2019, 12:36 WIB
Foto Habibie dan Ainun dalam salah satu ruangan di kediaman Presiden ketiga RI BJ Habibie di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. KOMPAS.com/SABRINA ASRILFoto Habibie dan Ainun dalam salah satu ruangan di kediaman Presiden ketiga RI BJ Habibie di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

KOMPAS.com“Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu, Karena aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi. Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.”

Rentetan kalimat menyayat hati tersebut adalah penggalan puisi dari almarhum BJ Habibie untuk mendiang istrinya, Ainun.

Cinta, sebegitu kuatnya, hingga bisa mengantar kita ke dalam kehidupan baru atau bahkan merenggut kebahagiaan. Tak terhingga jumlah lagu, buku, puisi, dan karir yang mencoba untuk merepresentasi rasa cinta. Namun dari kaca mata ilmu pengetahuan, apa yang dimaksud dengan rasa cinta, terutama cinta sejati?

Baca juga: 11 Pesan Habibie Semasa Hidup, tentang Indonesia, Cinta, dan Cita-cita

Ahli saraf Gabija Toleikyte dan antropolog biologi Helen Fisher menjelaskan hal tersebut.

Dikutip dari Wired, kedua ilmuwan ini setuju bahwa cinta sejati tidak bisa dikontrol. Istilahnya, tak ada tombol on atau off untuk 'menyalakan' rasa cinta.

“Benak kita menyimpan informasi 10 kali lebih banyak dibanding otak secara rasional. Jadi ketika kita jatuh cinta kepada seseorang, kita merasakan itu adalah suatu hal yang luar biasa. Padahal di saat bersamaan, otak kita bekerja sangat kuat untuk menghasilkan perasaan tersebut,” tutur Gabija.

Gabija mendeskripsikan hal ini sebagai cinta romantis, sebagai sebuah kebutuhan dasar yang muncul jutaan tahun lalu agar manusia fokus kepada satu orang pasangan dan bereproduksi.

Foto pasangan muda, BJ Habibie-Ainun yang mengenakan busana kebesaran adat Gorontalo (Biliu) pada resepsi pernikahan mereka.KOMPAS.COM/ISTIMEWA Foto pasangan muda, BJ Habibie-Ainun yang mengenakan busana kebesaran adat Gorontalo (Biliu) pada resepsi pernikahan mereka.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Sumber Wired UK
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X