Kompas.com - 06/09/2019, 16:32 WIB
Langka, ular berkepala dua ditemukan di Bali. OKA WIDIARTANALangka, ular berkepala dua ditemukan di Bali.

KOMPAS.com - Seekor ular berkepala dua berhasil membuat heboh warga Dusun Tengah, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali pada Jumat (30/8/2019). Ini merupakan sebuah penemuan langka di alam liar.

Dalam rekaman sebuah video, tampak ular cokelat berkepala dua itu berukuran sangat kecil, sekitar 40 sentimeter jika dibentangkan.

"Saya menemukan ular ini saat saya pulang kerja. Ketika saya memarkir sepeda motor, di sebelah saya ada ular. Saya melihat lebih dekat dan ternyata ular ini memiliki dua kepala. Sangat mengejutkan," ungkap Gusti Bagus Eka Budaya, seperti dilansir AFP, Kamis (5/9/2019).

Ahli herpetologi (reptil dan amfibi) dari LIPI, Amir Hamidy mengatakan, ular berkepala dua ini merupakan ular pucuk (Ahaetulla prasina juvenile).

Baca juga: KKN di Desa Penari, Mengapa Ular Kerap Jadi Hewan Siluman?

"Jenis ular pucuk atau Ahaetulla prasina. Ular ini tidak berbisa," ungkap Amir kepada Kompas.com, Jumat (6/9/2019).

Dinamai ular pucuk karena bentuk tubuhnya menyerupai pucuk-pucuk tanaman yang panjang dan berwarna hijau cerah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ulur pucuk anakan memiliki warna kecokelatan seperti dalam foto, sementara jika sudah dewasa warna kulitnya berubah menjadi kehijauan.

Ular pucuk umum di Indonesia, kecuali di wilayah Maluku dan Papua.

Mereka banyak dijumpai di sekitar rumah, pekarangan, pinggir hutan, semak belukar, dan pepohonan. Panganan ular pucuk antara lain cicak, kadal, bunglon, hingga burung kecil.

Pemicu ular berkepala dua

Amir menerangkan, hewan dengan dua kepala sebenarnya sesuatu yang wajar dan sangat mungkin terjadi di dunia hewan. Kondisi ini bisa dialami semua jenis hewan, tak terkecuali ular.

"Ini (ular berkepala dua) sama seperti manusia kembar siam. Ini karena saat pembelahan sel atau ketika embrio berkembang tidak sempurna," jelas Amir.

Lebih banyak kejadian di penangkaran

Diberitakan AFP, para ahli mengatakan kejadian ular berkepala dua sangat jarang ditemukan di alam liar. Biasanya mereka sengaja dikembangbiakkan di penangkaran.

Hal ini pun tidak dipungkiri Amir.

Amir menjelaskan, ini karena hewan di penangkaran lebih terkontrol dan termonitor oleh manusia. Sehingga ketika ada kejadian apapun terkait hewan di penangkaran, tak hanya ular, akan lebih mungkin terpantau dan tercatat.

Selain itu, hewan-hewan di penangkaran jumlahnya sangat terbatas. Ada kemungkinan, sepasang hewan dari keturunan yang sama akan kawin karena keterbatasan individu dalam penangkaran tadi.

"Karena terbatas, variasi genetik yang dihasilkan di anakan itu rendah. Karena variasi genetik rendah, biasanya kalau kawin terus akan menghasilkan kecacatan seperti itu. Sama dengan manusia kalau kawin incest secara genetik kan tidak baik, ada penyakit muncul, kelainan-kelaian, dan kecacatan," jelas Amir.

Amir juga menambahkan, makhluk hidup dengan kelainan seperti ular berkepala dua sulit untuk bertahan hidup di alam liar.

Baca juga: Serba Serbi Hewan: Meski Mata Buruk, Ular Bisa Mencium Segala Bau

"Inilah kenapa individu (berkepala dua) yang di alam liar lebih sedikit teramati karena sulit untuk survive," jelas Amir.

Amir berkata, makhluk hidup apapun yang memiliki kelainan akan sulit bertahan hidup tanpa intervensi manusia.

"Jadi wajar kalau disebut lebih banyak ular berkepala dua di kandang, karena yang teramati di kandang. Kalau di alam, belum teramati biasanya sudah mati," tutup dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.