Serba Serbi Hewan: Meski Mata Buruk, Ular Bisa Mencium Segala Bau

Kompas.com - 25/08/2019, 17:03 WIB
Ilustrasi WildOne/CC0Ilustrasi

KOMPAS.com - Ular memiliki kemampuan mengendus bau yang baik.

Mereka mengendus bau atau aroma bukan dengan hidung, tapi organ di atap mulut yang bernama Jacobson atau organ vomeronasal.

Karena alat untuk mengendus bau ada di atap-atap mulut, maka ular harus mengeluarkan lidah mereka.

Baca juga: Indonesia Sungguh Negeri Ular, Bagaimana Cara Hidup Damai di Sini?

"Mereka sebenarnya memiliki hidung. Saat mereka mencium sesuatu dengan hidung dan tertarik dengan bau itu, mereka akan menjentikkan atau menggoyangkan lidahnya," ujar Kurt Schwenk, seorang profesor ekologi dan biologi evolusi dari Universivas Connecticut.

Dilansir Live Science (14/6/2016), Schwenk mengatakan bahwa lidah ular memiliki kemampuan untuk mengenali jejak bau tersebut.

Seperti kita tahu, beberapa ular dan kadal punya lidah bercabang. Nah, ketika mereka menggoyangkan lidah, maka lidah bercabang itu akan "mengambil" zat kimia bau baik yang ada di udara ataupun tanah.

"Ketika ular memasukkan kembali lidahnya ke dalam mulut, molekul bau entah bagaimana akan masuk ke organ vomeronasal atau hidung di dalam hidung," ujar Schwenk yang sudah mempelajari ular selama beberapa dekade.

Organ vomeronasal mirip seperi bola yang ada di atap mulut dan memiliki sepasang lubang kecil.

Pada kadal dan ular, organ vomeronasal terbuka hanya ke dalam mulut dan dipisahkan sepenuhnya dari rongga hidung.

"Itu berarti satu-satunya cara molekul (bau) dapat dirasakan atau tercium hanya melalui mulut," katanya.

Baca juga: Selain Weling yang Gigit Satpam di Serpong, Ada 2 Ular Bungarus Lain yang Berbisa

Pada 1920, para ilmuwan berpikir lidah bercabang ular dan kadal bisa dimasukkan ke dalam masing-masing lubang di atap mulut agar bisa mencium bau.

"Namun, bukan begitu cara kerjanya. Entah bagaimana bau bisa pindah ke lubang itu, masih misteri," imbuh Schwenk.

"Ketika seekor ular bergerak, biasanya lidahnya akan bergerak sekali setiap detik ata bisa lebih cepat. Pada saat ular mengambil bahan kimia bau dan mentransfernya, (otak) memiliki sepersekian detik untuk menafsirkannya," ujar Schwenk.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X