Freddie Mercury Bisa Saja Masih Hidup, Kalau…

Kompas.com - 06/09/2019, 08:07 WIB
Freddie Mercury  tampil bersama Queen dalam konser Live Aid di Stadion Wembley, London, pada 13 Juli 1985. ENCYCLOPEDIA BRITANNICA / TRINITY MIRROR / MIRRORPIX / ALAMYFreddie Mercury tampil bersama Queen dalam konser Live Aid di Stadion Wembley, London, pada 13 Juli 1985.

KOMPAS.com – Kemarin, dunia merayakan hari kelahiran salah satu musisi paling legendaris, Freddie Mercury. Vokalis band Queen ini lahir pada 5 September 1946.

Namun dalam perjalanan hidupnya, Freddie terjangkit HIV/AIDS. Ia pun meninggal pada 24 November 1991 akibat pneumonia (infeksi paru-paru).

Padahal, jika Freddie bisa bertahan hidup barang satu tahun lagi, bisa jadi ia masih hidup sampai sekarang. Ini karena tepat satu tahun setelahnya, yakni pada 1992, obat kombinasi berupa antiretroviral (ARV) ditemukan.

“Kalau saja dia (Freddie Mercury) bisa bertahan satu tahun lagi, mungkin ia masih hidup sampai sekarang. Tahun 1992, obat kombinasi (antiretroviral) ditemukan. Banyak pasien yang tertolong,” tutur dokter spesialis penyakit dalam, Prof dr Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM kepada Kompas.com, Kamis (5/9/2019).

Baca juga: Peta Interaktif - Merata se-Indonesia, Sebaran Anak dengan HIV/AIDS

Obat untuk HIV/AIDS, lanjut dr Zubairi, sebetulnya mulai beredar pada 1990. Obat tersebut didatangkan dari Amerika Serikat.

“Namun obatnya hanya satu, dan tidak berhasil. Memperbaiki (kondisi) sebentar, kemudian memburuk lagi. Pasien hanya bertahan sekitar enam bulan sampai dua tahun,” jelasnya.

dr Zubairi menyebutkan, di Indonesia, ARV mulai digunakan pada 1994. Namun baru sejak 1996, ada tiga obat ARV yang menjadi standar Indonesia dan dunia. Mulai 2004, semua obat ini disediakan gratis oleh pemerintah.

“ARV yang sekarang menurunkan angka kematian secara drastis. Tidak lagi bikin meninggal, sakit, tidak juga menular,” tuturnya.

Ilustrasi HIV/AIDSSHUTTERSTOCK/HAFIEZ RAZALI Ilustrasi HIV/AIDS

dr Zubairi juga mengatakan bahwa jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia adalah sekitar 650.000 orang. Dari jumlah tersebut, angka yang terdeteksi hanya 300.000 orang.

“Dari 300.000 orang itu, yang diobati baru 120.000 orang,” tambahnya.

Namun ia menyayangkan, di Indonesia, angka putus obat masih terbilang tinggi.

“Jika (penderita HIV/AIDS) putus obat, virus akan muncul lagi, dan tidak akan mempan lagi dengan obat yang diminum. Akan menular lagi ke orang lain. Ketaatan untuk minum obat ini bukan hanya harus disadari oleh pasien, tapi juga dokter dan keluarganya,” tutup dr Zubairi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X