Daun Kratom, Benarkah Bikin Kecanduan dan Bisa Mematikan?

Kompas.com - 02/09/2019, 18:07 WIB
Penanam kratom, Gusti Prabu, saat merawat tanaman kratom miliknya di sebuah perkebunan di Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (25/12/2018).  Masyarakat penanam kratom mendesak ketegasan Pemerintah terkait legalitas tanaman tersebut yang diketahui memiliki nilai ekonomi karena khasiatnya sebagai obat herbal, namun masih menjadi kontroversi akibat adanya indikasi daun ini mengandung zat psikotropika. AFP PHOTO/LOUIS ANDERSONPenanam kratom, Gusti Prabu, saat merawat tanaman kratom miliknya di sebuah perkebunan di Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (25/12/2018). Masyarakat penanam kratom mendesak ketegasan Pemerintah terkait legalitas tanaman tersebut yang diketahui memiliki nilai ekonomi karena khasiatnya sebagai obat herbal, namun masih menjadi kontroversi akibat adanya indikasi daun ini mengandung zat psikotropika.

KOMPAS.com - Badan Narkotika Nasional (BNN) berencana menaikkan tanaman kratom menjadi obat-obatan terlarang Golongan I karena dianggap memiliki efek psikotropika yang sangat berbahaya. 

Menanggapi hal ini, peneliti dan pakar adiksi di Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience Jakarta, dr Hari Nugroho MsC, yang dihubungi Kompas.com, Senin (2/9/2019) mengakui bahwa daun kratom mengandung senyawa yang dapat memiliki efek psikotropik (mengubah pikiran). Namun, efek ini tidak terlalu signifikan.

Dua senyawa dalam daun kratom, mitragynine dan 7-α-hydroxymitragynine, berinteraksi dengan reseptor opioid di otak, menghasilkan sedasi, kesenangan, dan mengurangi rasa sakit, terutama ketika pengguna mengonsumsi sejumlah besar tanaman.

Mitragynine juga berinteraksi dengan sistem reseptor lain di otak untuk menghasilkan efek stimulan.

Ketika kratom dikonsumsi dalam jumlah kecil, pengguna melaporkan peningkatan energi, kemampuan bersosialisasi, dan kewaspadaan alih-alih sedasi.

Baca juga: Manfaat dan Efek Kratom, Pohon Asal Kalimantan yang Akan Dilarang BNN

"Kalau dalam takaran rendah, efeknya (kratom) ini punya yang namanya psikoaktif dan itu berpengaruh ke susunan saraf atau stimulan saraf. Makanya kalau minum tehnya itu bisa bikin tenang atau relaks otot," kata Hari.

Dalam jumlah besar tapi masih batas wajar pun, Hari berkata bahwa kratom bisa berfungsi sebagai obat-obatan opioid atau untuk menghilangkan rasa sakit, penghilang nyeri, rileks dan gampang tidur.

Namun, kratom juga dapat menyebabkan efek samping yang tidak nyaman dan terkadang berbahaya.

Efek kesehatan yang sering dilaporkan dari penggunaan kratom meliputi, mual, gatal, berkeringat, mulut kering, sembelit, peningkatan buang air kecil, kehilangan selera makan, serta halusinasi.

Lalu seperti obat opioid jenis lainnya, kratom juga dapat menyebabkan ketergantungan, yang berarti pengguna akan merasakan gejala penarikan fisik ketika mereka berhenti minum obat.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X