Ibu Kota Pindah ke Kalimantan Timur, Walhi Khawatirkan Lingkungan dan Warga

Kompas.com - 27/08/2019, 18:35 WIB
Desain pusat ibu kota baru sebagaimana dirancang Kementerian PUPR. dok BBC IndonesiaDesain pusat ibu kota baru sebagaimana dirancang Kementerian PUPR.

KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo menetapkan Kalimantan Timur sebagai provinsi ibu kota baru. Dua kabupaten yang akan menjadi lokasinya adalah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Passer Utara.

Terkait pemindahan ibu kota dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur, Zenzi Suhadi selaku Kepala Departemen Advokasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ( Walhi) mengungkapkan kekhawatirannya atas lingkungan dan warga setempat.

Ketika dihubungi oleh Kompas.com, Selasa (27/8/2019); Zenzi berkata bahwa beban lingkungan di Kalimantan Timur sebetulnya sudah sangat tinggi dengan adanya aktivitas tambang batu bara, perkebunan kelapa sawit dan penebangan kayu, baik yang hak pengusahaan hutan atau pun yang hutan tanam industri.

"Sebenarnya ada kebutuhan bagi Kalimantan Timur untuk dipulihkan lingkungannya," ujarnya.

Baca juga: Ibu Kota Pindah, Punya Air Banyak tapi Struktur Tanah Kurang Stabil

Bila ibu kota dipindahkan ke Kalimantan Timur, kerusakan lingkungan, khususnya penggundulan hutannya, akan semakin menjadi.

Zenzi melihat bahwa meskipun pemindahan ibu kota dan istana ke Kalimantan Timur dibuat seadaptif mungkin terhadap lingkungan, pembukaan hutan pasti terjadi karena infrastruktur akan ditingkatkan secara volume dan kualitasnya.

Bahkan kalaupun yang dibangun hanyalah jalan yang tidak membabat hutan sepenuhnya, Zenzi berkata bahwa ini akan membuat hutan jadi terfragmentasi.

"Akan ada pemotongan jalur jelajah untuk satwa. Jadi (satwa) akan terisolasi dari (hutan) kiri dan kanan (jalan). Ini punya konsekuensi tersendiri (terhadap satwa)," katanya.

Adanya jalan yang memotong hutan juga akan meningkatkan risiko kematian satwa karena akses perburuan yang menjadi lebih mudah dan meningkatnya tabrakan oleh kendaraan.

Lantas, bila satwa tidak dapat menyeberang jalan, maka akan terjadi ledakan populasi di habitatnya. Ledakan populasi ini tidak akan menekan ke arah jalan, tetapi malah ke pemukiman penduduk dan daerah pertanian. Akibatnya, muncul lebih banyak konflik antara satwa dengan manusia.

Baca juga: Ibu Kota Pindah, Pakar Geologi UGM Sebut 2 Hal yang Wajib Diperhatikan

Selain lingkungan, Zenzi juga mengkhawatirkan masyarakat setempat yang akan perlahan-lahan tergusur oleh masyarakat luar yang berdatangan ke Kalimantan Timur.

Pasalnya, masyarakat setempat bisa jadi tidak memahami sistem yang akan datang bersama hadirnya ibu kota dan hanya bersifat bertahan. Sementara itu, masyarakat luar yang akan datang ke Kalimantan Timur mungkin memiliki kapasitas pengetahuan dan modal yang lebih besar.

"Kemungkinan, proses perpindahan hak, baik pembelian tanah atau perampasan langsung, akan terjadi," kata Zenzi.

Kemudian, kalau pun masyarakat setempat bisa menjual tanah mereka dengan harga lebih mahal, Zenzi berpendapat bahwa tindakan tersebut akan menyulitkan mereka di kemudian hari.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Kita
[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

Oh Begitu
Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
Studi: Virus Mencuri Kode Genetis Manusia, Ciptakan Gen Campuran Baru

Studi: Virus Mencuri Kode Genetis Manusia, Ciptakan Gen Campuran Baru

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X