Huawei, RFCx dan Warsi Berkolaborasi Selamatkan Hutan Sumbar

Kompas.com - 02/08/2019, 12:06 WIB
Warsi, Rainforest Connection dan Huawei berkolaborasi untuk menyelamatkan hutan yang tersisa di Sumatera Barat. Huawei Device IndonesiaWarsi, Rainforest Connection dan Huawei berkolaborasi untuk menyelamatkan hutan yang tersisa di Sumatera Barat.

SOLOK SELATAN, KOMPAS.com – Huawei, Rainforest Connection dan Warsi berkolaborasi untuk menyelamatkan hutan yang tersisa di Sumatera Barat.

Kolaborasi yang tak terduga ini dimulai oleh Komunitas Konservasi Indonesia Warsi yang telah menjadikan penyelamatan hutan di Sumatera Barat sebagai misinya sejak 2007.

Dituturkan oleh Rainal Daus, Manajer Program KKI Warsi, kepada Kompas.com di Pasir Talang Timur, Kabupaten Solok Selatan pada Kamis (25/7/2019); Sumatera Barat telah kehilangan 500.000 hektar hutan antara tahun 1990-2015 karena perkebunan, pemukiman, pembuatan jalan dan penebangan.

“Tapi penebangan, baik yang liar maupun legal atau ada Hak Pengusahaan Hutan-nya, menempati urutan pertama. Tingkat penebangan paling tinggi pada 2004,” ujarnya.

Baca juga: Kebakaran Hutan Kembali Terjadi, Restorasi Dipertanyakan

Kondisi memang mulai membaik sejak pemerintah mengadakan skema perhutanan sosial pada 2007. Dalam skema itu, masyarakat yang tinggal di dekat hutan diperbolehkan mengurus izin pengelolaan hutan seperti izin serupa yang diperuntukkan bagi swasta.

Warsi mendampingi masyarakat sekitar hutan untuk memperoleh legalitas atas lahannya, mengelola wilayah yang sudah didapatkan, mengembangkan usaha yang memanfaatkan tanpa merusak hutan dan terhubung dengan pasar.

Namun demikian, penebangan hutan, baik yang liar maupun legal, masih terus berlanjut hingga kini.

Rainal menjelaskan bahwa penjagaan area hutan yang sudah diberi izin merupakan salah satu tantangan terbesar bagi masyarakat sekitar hutan. Pasalnya, meskipun nagari atau desa telah membentuk kelompok yang bertugas untuk melakukan patroli di hutan, kelompok ini tidak didukung dengan dana nagari atau pemerintah.

Dengan kata lain, patroli dilakukan oleh masyarakat secara sukarela sebulan sekali.

“Misalnya kalau ada orang tebang (pohon) hari ini, patroli baru tahu hari berikutnya karena patrolinya hanya sebulan sekali. Jadi kalau ditebang (secara liar) di luar jadwal patroli, masyarakat pun kesulitan,” ujar Reinal.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X