Kompas.com - 01/08/2019, 10:51 WIB
Ilustrasi gempa bumi. AFPIlustrasi gempa bumi.

KOMPAS.com — Hasil evaluasi aktivitas gempa bumi di Indonesia selama Juli 2019 menujukkan telah terjadinya peningkatan aktivitas kegempaan jika dibandingkan dengan Juni 2019.

Berdasarkan hasil monitoring BMKG selama Juli 2019, di Indonesia telah terjadi gempa bumi tektonik sebanyak 841 kali.

"Artinya telah terjadi peningkatan aktivitas kegempaan jika dibandingkan dengan Juni yang hanya terjadi gempa tektonik sebanyak 735 kali," ungkap Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, kepada Kompas.com, Kamis (1/8/2019).

Secara umum jumlah kejadian gempa tektonik, baik pada Juni maupun Juli 2019, lebih banyak terjadi di wilayah Indonesia timur.

Baca juga: Majenang 2 Kali Diguncang Gempa, Bukti Sesar Citanduy Masih Aktif

Daryono mengatakan, aktivitas gempa pada Juli 2019 didominasi gempa dengan magnitudo kecil, kurang dari 5,0 sebanyak 789 kali.

Adapun aktivitas gempa bumi signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 terjadi sebanyak 52 kali.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ini berarti, jumlah gempa signifikan juga mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yaitu Juni, yang hanya terjadi sebanyak 35 kali," kata dia.

Jumlah gempa yang dirasakan di wilayah Indonesia selama Juli 2019 terjadi sebanyak 84 kali.

Jumlah gempa dirasakan ini juga mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya terjadi sebanyak 65 kali.

Peta Seismisitas Indonesia periode Juli 2019. Aktivitas gempa mengalami peningkatan. Peta Seismisitas Indonesia periode Juli 2019. Aktivitas gempa mengalami peningkatan.

Jika pada Juni hanya terjadi 3 kejadian gempa merusak, pada Juli 2019 terjadi gempa merusak sebanyak 4 kali, yaitu:

  1. Gempa Maluku Utara 7 Juli 2019 dengan magnitudo 7,1 menyebabkan beberapa rumah rusak ringan di Sulawesi Utara.
  2. Gempa Sumbawa 13 Juli 2019 dengan magnitudo 5,5 menyebabkan beberapa rumah dan pura rusak ringan di Sumbawa.
  3. Gempa Halmahera Selatan 14 Juli 2019 dengan magnitudo 7,2 menyebabkan 13 orang meninggal dan lebih dari 2.000 rumah rusak di Halmahera Selatan.
  4. Gempa Bali Selatan 16 Juli 2019 dengan magnitudo 6,0 menyebabkan beberapa bangunan rumah rusak ringan dan genteng berjatuhan di Tuban, Badung, Denpasar, dan Banyuwangi.

Baca juga: Indonesia Rawan Tsunami, Ini Daftar Wilayah yang Berpotensi

"Sebagai masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa, seyogianya kita sebisa mungkin terus mengupayakan terwujudnya bangunan tahan gempa karena mitigasi struktural adalah kunci utama dalam mitigasi gempa bumi, di samping memahami cara selamat saat terjadi gempa," Daryono mengingatkan.

Banyaknya kerusakan rumah hingga jatuh korban jiwa setiap terjadi gempa kuat merupakan bukti bahwa kita masih kurang dalam upaya mitigasi gempa bumi di Negara rawan gempa ini.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X