Kasus Orang Pura-pura Mati di Sampang, Bagaimana Sains Melihat Mati Suri?

Kompas.com - 31/07/2019, 08:05 WIB
Ilustrasi pengalaman mati suri. Wikimedia CommonsIlustrasi pengalaman mati suri.

Hingga kini, mereka masih memperdebatkan definisinya karena kematian harus dilihat sebagai sebuah proses, bukan satu kejadian tersendiri. Pasalnya, kematian melibatkan berhentinya berbagai macam mekanisme.

Valentine menjelaskan bahwa ketika jantung berhenti berdetak, jaringan yang disuplai oksigen dan glukose oleh jantung pun terganggu kerjanya. Gangguan kerja jaringan kemudian bisa menyebankan menumpuknya kotoran yang bisa mematikan sel. Jika sel yang mati cukup banyak, terjadilah kegagalan organ dan tubuh dinyatakan mati.

“Sel-sel otak yang lemah paling mudah terpengaruh oleh kekurangan oksigen (anoxia) dan mereka biasanya mulai mati setelah 4-6 menit (setelah jantung berhenti),” tulis Valentine.

Namun, temperatur dingin, seperti yang dialami oleh Kolkiewicz ketika disimpan dalam kamar mayat, bisa memperlambat kematian sel. Ketika memasuki kondisi hibernasi, sel-sel kulit bahkan bisa bertahan hidup hingga 24 jam setelah jantung berhenti berdetak.

Itulah sebabnya ketika Kolkiewicz bangun di kamar mayat 11 jam kemudian, dia baik-baik saja dan tidak mengalami gangguan apa pun selain rasa lapar.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X