Kompas.com - 29/07/2019, 14:06 WIB
Prasasti mengenang para Korban Gempa Nias, 28 Maret 2005, di Lokasi pekuburan Santiong Baru, Desa Fodo, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara KOMPAS.com/HENDRIK YANTO HALAWAPrasasti mengenang para Korban Gempa Nias, 28 Maret 2005, di Lokasi pekuburan Santiong Baru, Desa Fodo, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara

"Saya benar-benar tersentuh. Mulai dari masyarakat, pemerintah, dan semua saling bahu membahu untuk melakukan tanggap darurat di Aceh dan Nias juga pada 2005. Itu luar biasa. Namun effort mereka bisa sia-sia, jika hal ini (kejadian tsunami) terulang terus," imbuh Widjo dengan mata berkaca-kaca.

Oleh karena itu, dia berpikir ada masyarakat ilmiah yang dapat memikirkan dan memproyeksi apa yang akan terjadi di masa depan.

"Ini juga yang membuat saya mengambil S3 bidang ini (tsunami)," ungkap Widjo yang mengambil S3 di Leibniz University Hannover Jerman.

Pernah salah prediksi dan jadi batu loncatan

Pria yang kini menjabat sebagai kepala Seksi Program dan Jasa Teknologi Balai Teknologi Infrastruktur dan Dinamika Pantai, BPPT, ingat betul ketika dia meneliti pasca tsunami Aceh, ada seorang warga yang menanyakan apakah gempa sebesar Aceh mungkin terjadi lagi dalam waktu dekat atau tidak.

Kala itu, Widjo bersama rekannya ahli dari AS berkata, peristiwa serupa tidak mungkin terjadi lagi. Dia mengatakan, mungkin akan terjadi lagi tapi masih ratusan tahun ke depan.

Nyatanya pada Maret 2005, gempa berkekuatan M 8,7 mengguncang Nias, Sumatera Barat. Saat itu episenter gempa berada 30 km di bawah Samudera Hindia dengan jarak 200 kilometer sebelah barat Sibolga, Sumatera.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Getaran gempa ini dirasakan hingga Bangkok, Thailand, sekitar 1.000 km jauhnya.

"Ketika saya ke sana, melihat rumah sudah rata dengan tanah. Saya merasa informasi yang disampaikan sebelumnya keliru. Saya tidak memberi informasi yang komprehensif, bahwa siklus gempa tidak melulu berjarak lama. Bisa saja sesar yang ada di dekatnya ikut terangsang untuk jadi gempa baru," ujar Widjo.

Hal inilah yang semakin membuatnya ingin mendalami lagi soal tsunami. Pada 2007 dia pun mengambil pendidikan S3 soal peringatan dini tsunami di Leibniz University Hannover Jerman.

Baca juga: Viral Potensi Tsunami Selatan Jawa, LIPI Bikin Peta Rendaman Skala 1:10.000

Bagi Widjo, mempelajari tsunami adalah passion yang timbul karena kondisi-kondisi yang dialaminya.

"Saya terjun ke masyarakat, saya melihat duka, lara, pilu mereka dalam menjalani pasca bencana, dan kemudian ada satu dorongan bahwa harus ada yang memahami lebih tentang ini (tsunami) supaya nanti jika ada bahaya tidak sedemikian parah seperti saat kejadian di Aceh," tutup Widjo.

Widjo tercatat sudah menghasilkan lebih dari 30 penelitian. Karya-karya Widjo banyak dijadikan rujukan oleh banyak pihak.

Setidaknya ada tiga karya Widjo yang telah dikutip lebih dari 100 kali. Misalnya A 1.000-year sediment record of tsunami recurrence in northern Sumatra; Extreme runup from the 17 July 2006 Java tsunami; dan Northwest Sumatra and offshore islands field survey after the December 2004 Indian Ocean tsunami.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.