Kompas.com - 26/07/2019, 11:14 WIB

KOMPAS.com - Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah menyiapkan peta rendaman tsunami dengan skala 1:10.000 yang bisa menjadi acuan kuat dalam perencanaan tata ruang wilayah pesisir.

"Peta topografi yang paling detail di Indonesia skalanya baru 1:25.000 dan itu pun hanya melingkupi wilayah Jawa, skalanya lebih tidak detail," kata ahli paleotsunami LIPI Eko Yulianto dalam acara pemuataran The Untold Story of Java Southern Sea di Jakarta, Kamis (25/7/2019), seperti diberitakan Antara.

Eko menjelaskan, pemetaan data dasar ancaman tsunami, termasuk peta daerah yang berpotensi tergenang, nantinya dapat dijadikan acuan kuat untuk perencanaan tata ruang wilayah pesisir dan upaya pengurangan risiko bencana di kawasan pesisir.

Baca juga: Viral Potensi Tsunami Selatan Jawa, Ahli Ingatkan Warga Lakukan 4 Hal Ini

"(Peta rendaman tsunami) bisa untuk merencanakan pengurangan risiko bencana lebih detail lagi, sampai rencana kontingensi dan operasinya bisa diturunkan," ungkap Eko.

Eko menargetkan, peta rendaman tsunami akan rampun di tahun 2020. Pada tahap awal, peta mencakup 12 daerah yang memiliki kerentanan tinggi tsunami seperti Pangandaran, Cilacap, Kebumen, Purworejo, Yogyakarta, dan Pacitan.

Menurut Eko, pemerintah daerah sudah saatnya memikirkan strategi untuk mengurangi risiko di daerah-daerah pesisir paling rawan itu.

"Perlu segera dipikirkan strategi pengurangan risiko oleh pemerintah daerah dengan efek pembangunan di jalur Selatan Jawa," tegas Eko.

Eko melanjutkan, peta rendaman tsunami akan dikombinasikan dengan peta batimetri, topografi, hingga demografi dalam skala detail guna mempermudah perencanaan tata ruang yang mendukung pengurangan risiko bencana.

"Peta-peta dasar tersebut dibeli, karena jika harus memetakan sendiri akan sangat mahal," jelas Eko.

Peta rendaman tsunami yang dibuat menggunakan Dana DIPA LIPI mencapai Rp 500 juta itu juga akan memperlihatkan prakiraan volume air yang menjangkau daratan berdasarkan besaran potensi tsunami.

Baca juga: Belajar dari Potensi Gempa di Indonesia, Apa Itu Gempa Pembuka?

Peta rendaman tsunami bakal digunakan untuk mitigasi dan pengurangan risiko bencana.

Sebab itu, pembuatan peta ini membutuhkan data pemerintah daerah mengenai tata guna lahan, kepemilikan lahan, hingga demografi yang menunjukkan jumlah warga lansia hingga anak-anak.

"Mau tidak mau harus menggandeng Pemda untuk melakukan uji coba supaya selanjutnya ada daerah lain lagi yang mau melaksanakannya," demikian ujar Eko Yulianto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.