Viral Kicauan Lisa Marlina soal Bali, Alasan Kita Susah Bijak Bermedsos

Kompas.com - 22/07/2019, 20:03 WIB
Ni Luh Djelantik, desainer ternama asal Bali berencana melaporkan Lisa Marlina, pemilik akun Twitter @lisaboedi karena dianggap melecehkan mertabat perempuan Bali. Kompas.com / RACHMAWATINi Luh Djelantik, desainer ternama asal Bali berencana melaporkan Lisa Marlina, pemilik akun Twitter @lisaboedi karena dianggap melecehkan mertabat perempuan Bali.

KOMPAS.com – Kicauan Lisa Marlina dengan nama akun @lisaboedi di Twitter sedang menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Pasalnya, desainer ternama asal Bali, Ni Luh Djelantik, berencana untuk melaporkan Lisa Marlina ke polisi karena kicauannya dianggap telah melecehkan martabat masyarakat Bali.

Belakangan, Lisa Marlina meminta maaf di Twitter karena kurang hati-hati dalam menyampaikan pendapat dan telah melakukan typo saat terlalu emosi membalas pengguna Twitter lain.

Selain Lisa Marlina, kejadian serupa juga sudah pernah terjadi di Indonesia. Jika Anda masih ingat, dulu ada kasus Florence Sihombing yang juga dianggap menghina warga Yogyakarta di media sosial. Di luar negeri, juga ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan harus berurusan dengan hukum karena unggahan yang salah di media sosial.

Kasus-kasus semacam ini membuat para ahli bertanya-tanya, mengapa kita susah bersikap bijak di media sosial dan malah jadi lebih agresif ketika hanya berhadapan dengan layar?

Baca juga: Kenapa Kita Suka Membandingkan Diri dengan Orang Lain di Media Sosial?

1. Kontrol diri yang menurun

Sebuah studi yang mempelajari perilaku pengguna Facebook oleh profesor Universitas Kolombia Keith Wilcox dan profesor Universitas Pittsburgh Andrew Stephen mengungkapkan bahwa media sosial memang menurunkan batas kontrol diri kita. Efek ini paling terasa pada orang-orang yang jaringan Facebooknya terdiri dari teman-teman yang paling dekat.

Dijelaskan dalam artikel Wall Street Journal, 2 Oktober 2012; hampir semua orang menampilkan citera yang melebihi diri asli di Facebook. Ketika mendapat tanggapan positif, misalnya dalam bentuk “like”, ego kita pun naik dan kontrol diri menurun.

Wilcox mengatakan, anggap itu seperti efek perizinan: Anda merasa senang dengan diri Anda sendiri sehingga merasa memiliki hak. Lantas untuk melindungi pandangan yang meningkat itu, beberapa orang kemudian membalas dengan keras terhadap orang-orang yang tidak sependapat.

Baca juga: Penemuan yang Mengubah Dunia: Media Sosial, Kenapa Bikin Panik saat Diblokir?

2. Aksesibilitas

Selain kontrol diri yang rendah, aksesibilitas media sosial dari mana saja dan kapan saja juga membuat kita rentan mengunggah hal-hal yang tidak bijak hanya karena emosi sesaat, ujar Craig Blewett, dosen senior edukasi dan teknologi di University of KwaZulu-Natal

Dalam artikelnya di The Conversation, 11 Januari 2017, Blewett menulis bahwa  pada zaman pre-teknologi, seseorang yang ingin meluapkan kemarahannya harus mencari alamat koran lokalnya, menulis surat dan mengirimkannya. Dalam jeda waktu tersebut, bisa jadi kemarahannya memudar. Hal ini jelas tidak sama dengan media sosial yang bersifat instan.

“Teknologi baru dengan aksesnya di mana-mana telah mengubah kita, sebagian besar tanpa kita sadari, dari konsumen konten pasif menjadi produser konten aktif. Banyak orang secara siap berasimilasi dengan manfaat akses permanen ke sebuah platform publikasi, tetapi tidak cukup cepat untuk menyadari tanggung jawab yang menyertai peran sebagai penerbit konten,” tulisnya.

Baca juga: Studi: Perilaku Pecandu Media Sosial Mirip Kecanduan Narkoba

3. Tidak ada reaksi dari orang lain

Blewett juga berkata bahwa di dunia nyata, keberadaan fisik orang lain sering kali menjadi pembatas akan apa yang ingin kita katakan. Nah, ketika hanya berhadapan dengan gadget, muncul ruang spasial antara pengunggah dan audiens yang membuat seseorang menjadi lebih berani untuk berekspresi.

Sependapat dengan Blewett, Sherry Turkle yang merupakan psikolog dan profesor ilmu sains dan teknologi dari Massachusetts Institute of Technology menjelaskan kepada Wall Street Journal bahwa kesulitan untuk melihat reaksi dari audiens membuat kita menjadi lebih tidak terkontrol di internet.

Lalu, karena kita sulit melihat dan fokus pada persamaan dengan orang lain ketika berada di internet, kita pun menjadi lebih mudah lupa bahwa audiens kita juga manusia.

Baca juga: Awkarin dan Instagram, Benarkah Efek Media Sosial Seperti Narkoba?

4. Bicara di internet = bicara kencang di muka publik

Namun, mungkin kesalahan yang paling mendasar adalah kesalahpahaman publik akan media sosial.

Turkle berkata bahwa banyak orang tidak menyadari kalau berkomunikasi secara online sama saja dengan berbicara kencang di muka publik. Apalagi ketika unggahan dibuat melalui ponsel, banyak orang merasa bahwa apa yang mereka publikasikan di internet tidak memiliki konsekuensi di dunia nyata.

Hal ini, ujar Blewett, karena orang salah menganggap media sosial sebagai buku harian. Padahal, media sosial juga memberi kita eksposur sehingga daripada buku harian, menulis di media sosial lebih mirip dengan menulis surat ke editor sebuah koran, hanya saja kali ini publikasinya instan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X