Kompas.com - 22/07/2019, 15:46 WIB
Ilustrasi lidah mertua (Sansevieria trifasciata). Ilustrasi lidah mertua (Sansevieria trifasciata).

Merujuk artikel Kompas.com berjudul Tanaman yang Dapat Menyerap Polutan yang terbit (3/8/2010), para ilmuwan dari Universitas Sydney, Australia mengatakan bahwa tanaman lidah mertua mengandung banyak air dan efektif menyerap formaldehyde, salah satu racun yang dihasilkan oleh asap rokok.

Sementara itu, National Aeronautics and Space Administration (NASA) Amerika Serikat pernah merilis artikel pada 1989 yang mengungkap lidah mertua mampu menyerap lebih dari 107 unsur polutan berbahaya yang ada di udara dalam ruangan.

NASA juga memanfaatkan lidah mertua menjadi obyek penelitian NASA untuk penyaring dan pembersih udara di stasiun angkasa luar.

NASA merekomendasikan untuk menempatkan lidah mertua sekitar 15-18 tanaman dalam wadah berdiameter 6-8 inci di setiap 1.800 kaki persegi ruangan atau rumah.

"Dalam studi ini, daun, akar, tanah, dan mikroorganisme terkait tanaman lidah mertua telah dievaluasi sebagai cara yang mungkin dilakukan untuk mengurangi polutan udara dalam ruangan," tulis ahli NASA dalam abstrak temuan mereka pada 1989.

Ini artinya, tanaman lidah mertua dapat bekerja dengan baik untuk mengurangi polutan yang ada di dalam ruangan.

Meski beberapa bukti ilmiah menunjukkan tanaman lidah mertua dapat mengurangi polusi udara di dalam ruangan, tapi hal ini dianggap bukan solusi yang tepat untuk Jakarta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Ariyanu berkata, yang semestinya dilakukan pemerintah DKI adalah mengendalikan langsung sumber pencemarnya.

"Enggak salah sih pakai lidah mertua. Bahkan NASA juga ada risetnya yang mengungkap tanaman itu lebih optimal menyerap (polutan) di kondisi dalam ruangan. Tapi masa iya, solusinya hanya bagi-bagi lidah mertua. Bagaimana dengan cerobong-cerobong yang mengeluarkan asap, knalpot kendaraan yang hitam, sampah yang masih dibakar dan lainnya," kata Bondan kepada Kompas.com melalui pesan singkat, Senin (22/7/2019).

"Lagi-lagi bicara soal polusi udara harus dikendalikan sumber pencemarnya," tegas Bondan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.