Menilik Pemicu dan Potensi Gempa Bali Pasca M 6 Mengguncang Selasa Pagi

Kompas.com - 17/07/2019, 22:45 WIB
Gempa bermagnitudo 6 mengguncang Bali pada Selasa (16/7/2019) sekitar pukul 07.18 Wita. Gempa ini berpusat di 83 kilometer arah barat daya Nusa Dua Bali dengan pusat gempa di kedalaman 68 kilometer. dok Twitter BMKGGempa bermagnitudo 6 mengguncang Bali pada Selasa (16/7/2019) sekitar pukul 07.18 Wita. Gempa ini berpusat di 83 kilometer arah barat daya Nusa Dua Bali dengan pusat gempa di kedalaman 68 kilometer.

KOMPAS.com - Gempa bumi yang mengguncang pulau Bali pada Selasa (16/07/2019) pagi yang lalu mengagetkan banyak orang. Pasalnya, kerusakan akibat lindu tersebut cukup banyak dilaporkan.

Sebenarnya, gempa pada Selasa pagi kemarin bukan yang pertama menggetarkan Bali.

Apalagi jika mengingat, pulau Bali merupakan bagian dari busur kepulauan Sunda Kecil (The Lesser Sunda) yang terbentuk sebagai akibat proses tumbukan busur benua (arc-continent collision) dan subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Menurut Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, proses subduksi ini tidak hanya menimbulkan aktivitas tektonik seperti gempa bumi tetapi juga aktivitas vulkanik Gunung Agung yang secara berkala mengalami erupsi.

Baca juga: Bali Diguncang M 5,8 Selasa Pagi, Ini Riwayat Gempa di Pulau Dewata

"Fenomena serupa dengan busur kepulauan lainnya, di busur kepulauan ini juga ditandai dengan sebaran vertikal pusat sumber gempa yang menukik dikenal sebagai zona Benioff-Wadati," ungkap Daryono melalui pesan singkat, Rabu (17/07/2019).

Meski begitu, gempa bumi berkekuatan M 6,0 yang mengguncang Bali, Jawa Timur, dan Lombok hari Selasa 16 Juli 2019 lalu menyisakan tanda tanya. Beberapa warga melontarkan pertanyaan kepada BMKG pasca terjadinya gempa.

Salah satu pertanyaan yang mendapat perhatian BMKG adalah, apakah yang menjadi pemicu gempa ini, dan apakah ada potensi gempa besar di zona subduksi lempeng selatan Bali?

Pemicu Gempa

"Jika kita memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya tampak bahwa gempa kemarin merupakan gempa kedalaman menengah yang dipicu oleh deformasi batuan tepat di bidang kontak antar-lempeng," tutur Daryono.

Hasil relokasi sumber gempa yang dilakukan BMKG, menunjukkan bahwa episenter terletak pada koordinat 8,97 LS dan 114,4 BT dengan kedalaman 75,6 km.

"Pada kedalaman ini berarti pusat gempa tidak terletak pada kerak benua, tetapi berada di zona slab interface-nya,' ujar Daryono.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X