Kompas.com - 02/07/2019, 17:06 WIB

Oleh karena itulah, Michael pun merekomendasikan jalan kaki dengan durasi 30 menit tanpa henti lima hari dalam seminggu atau total 150 menit seminggu bagi orang yang obesitas untuk menurunkan berat badan. Jalan kaki bisa dilakukan di mana saja, mulai dari gym, lintasan jogging sampai pusat perbelanjaan.

Dia berkata bahwa jalan kaki memang lebih lama dalam menurunkan berat badan karena metabolisme dan pembakaran kalori yang dihasilkannya tidak terlalu banyak, tetapi olahraga ini lebih aman karena tidak akan melampaui batas kemampuan.

Baca juga: Sudah Rajin Lari Tiap Hari, Kok Berat Badan Tidak Turun?

Selain itu, jalan kaki tidak membuat defisit kalori berlebih sehingga yang melakukan tidak terlalu lapar dan diet bisa berjalan dengan baik.

Bagi orang yang mengalami obesitas dengan berat di atas 90 kilogram, jalan kaki juga bisa digunakan untuk mendeteksi rasa sakit di tubuh, baik lokasinya maupun gerakan apa yang menyebabkannya.

Lalu, jalan kaki juga dapat dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan, misalnya dengan ditambahkan sport therapy.

Sport therapy adalah program pengobatan yang menggunakan olahraga terukur untuk meningkatkan derajat kesehatan seseorang, serta membantu proses penyembuhan obesitas dan penyakit-penyakit terkait, seperti diabees, kolesterol tinggi dan hipertensi.

Bila sudah terukur menggunakan sport therapy, jalan kaki pun bisa diperberat, misalnya dengan menambahkan high intensity interval training (HIIT).

“Jalannya jalan biasa, kemudian jalan cepat, jalan biasa, jalan cepat. Jalan biasa 1,5 menit, jalan cepat setengah menit. Untuk kecepatannya, 4 mil per jam (mph) pada waktu jalan biasa dan 7 mph waktu jalan cepat,” jelas Michael.

Dokter spesialis olahraga ini tidak merekomendasikan jalan cepat secara terus-menerus karena dapat menyebabkan defisit kalori. Dia juga tidak menyarankan lari bagi orang yang obesitas karena benturan pada lutut yang mencapai empat kali lipat berat badan bisa menyebabkan kerusakan lutut.

Bila dibandingkan dengan jogging, jalan kaki yang diselingi dengan jalan cepat juga akan melatih seluruh tubuh karena tangan jadi ikut berayun. “Gerakan ekstra (tangan yang berayun) tadi akan melatih otot-otot perut, dada dan lengan secara tidak disadari,” imbuhnya.

Baca juga: Dilema Jalan Kaki di Indonesia dan Dampaknya pada Kesehatan

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.