Merevolusi Penanganan Serangan Jantung, Prof Harry Suryapranata Dapat Penghargaan dari Belanda

Kompas.com - 01/07/2019, 19:50 WIB
Prof. Dr. Harry Suryapranata Yunanto Wiji UtomoProf. Dr. Harry Suryapranata

KOMPAS.com - Selama puluhan tahun, serangan jantung berarti hukuman mati. Serangan jantung disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah koroner secara tiba-tiba oleh gumpalan darah. Penderita biasanya hanya menerima obat pengencer darah untuk mencegah penyumbatan serta beristirahat di rumah sakit selama dua minggu. Dengan terapi itu, 20 persen pasien keluar kamar rumah sakit tanpa nyawa.

Hingga pada tahun 1993, sebuah publikasi di The New England Journal of Medicine berjudul "A Comparison of Immediate Coronary Angioplasty with Intravenous Streptokinase in Acute Mycardial Infraction" mengubah dan menumbuhkan harapan hidup bagi pasien serangan jantung.

Adalah Harry Suryapranata, profesor dan doktor ahli intervensi jantung yang kini bekerja di Rumah Sakit Jantung Diagram - Siloam Hospitals Group, yang menjadi salah satu peneliti dalam publikasi itu. Berkat riset dan dampaknya, Harry mendapatkan gelar Knight in the Order of the Netherlands Lion dari Kerajaan Belanda tahun ini.

Ditemui Kompas.com pada Kamis (20/6/2019) lalu, Harry menuturkan bahwa gagasan penelitiannya bermula dari keprihatinan saat melihat pasien serangan jantung. Mereka kadang disebut "gravely ill patients", berpeluang besar meninggal akibat penyumbatan oleh gumpalan darah saat serangan jantung.

Baca juga: Dokter Bongkar Mitos Obat Diabetes Berbahaya bagi Ginjal

Akhir tahun 80-an, dalam proyek disertasi doktoralnya, Harry mengujicoba pemberian pengencer darah lewat pembuluh darah jantung secara langsung. Dosisnya 10 persen dari prosedur biasanya, infus lewat pembuluh darah vena. "Ternyata dampaknya luar biasa," katanya.

Dia lantas menindaklanjuti dengan eksperimen baru, melakukan tindakan ballon dan stent jantung segera setelah serangan jantung. Menurutnya, stent - atau yang kini dikenal dengan pemasangan ring jantung - segera setelah serangan jantung berpotensi melancarkan kembali saluran pembuluh darah jantung yang tadinya tersumbat dan yang berpotensi memicu kematian.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hasil eksperimen yang diterbitkan di The New England Journal of Medicine pada 1993 menuai kontroversi. "Dunia gempar saat itu. Saya dan rekan-rekan saya dituduh sebagai koboi-koboi yang melakukan tindakan tidak etis," ungkap Harry.

Meski demikian, dampak eksperimen itu sangat baik. "Jumlah orang yang meninggal akibat serangan jantung turun dari 20 persen menjadi hanya 2 persen. Ini menunjukkan bahwa kita harus punya keberanian melakukan eksperimen," terangnya.

Mengubah Guidelines Dunia

Menyusul eksperimen pertama, Harry dan rekannya melakukan riset lanjutan guna menjawab keraguan dunia kedokteran saat itu. Ulasan dari serangkaian eksperimen dipadu dengan "propaganda" lewat kuliah umum yang menjelaskan hasil studi akhirnya meredakan kontroversi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bisa Jadi Sarang Kuman, Inilah Benda-benda Paling Kotor di Rumah

Bisa Jadi Sarang Kuman, Inilah Benda-benda Paling Kotor di Rumah

Oh Begitu
Penyebab dan Cara Mengatasi Biang Keringat

Penyebab dan Cara Mengatasi Biang Keringat

Kita
Ahli Ungkap Islandia Bagian Benua yang Tenggelam 10 Juta Tahun Lalu

Ahli Ungkap Islandia Bagian Benua yang Tenggelam 10 Juta Tahun Lalu

Oh Begitu
Banyak Lansia di Indonesia, Tenaga Kesehatan Harus Paham Pentingnya Healthy Aging

Banyak Lansia di Indonesia, Tenaga Kesehatan Harus Paham Pentingnya Healthy Aging

Oh Begitu
Kamasutra Satwa: Kibaskan Ekornya ke Samping, Tanda Anjing Betina Siap Kawin

Kamasutra Satwa: Kibaskan Ekornya ke Samping, Tanda Anjing Betina Siap Kawin

Oh Begitu
Tanda Pasien Covid-19 Memburuk Saat Isoman Menurut Satgas Covid-19

Tanda Pasien Covid-19 Memburuk Saat Isoman Menurut Satgas Covid-19

Oh Begitu
Penemuan Obat Antivirus Ini Lahirkan Obat untuk Lawan Virus dari Herpes, HIV hingga Covid-19

Penemuan Obat Antivirus Ini Lahirkan Obat untuk Lawan Virus dari Herpes, HIV hingga Covid-19

Oh Begitu
Isu Doping Atlet Pesaing Windy Cantika Aisah, Apa Itu Doping dan Risikonya?

Isu Doping Atlet Pesaing Windy Cantika Aisah, Apa Itu Doping dan Risikonya?

Oh Begitu
Perjalanan Vaksin Nusantara, Kehebohan dan Pelajarannya

Perjalanan Vaksin Nusantara, Kehebohan dan Pelajarannya

Oh Begitu
6 Tips Minum Kopi Agar Lebih Menyehatkan Tubuh

6 Tips Minum Kopi Agar Lebih Menyehatkan Tubuh

Oh Begitu
Pantai Alaska Diguncang Gempa M 7,8 Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia

Pantai Alaska Diguncang Gempa M 7,8 Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia

Oh Begitu
Syarat Rumah yang Bisa Dipakai Isolasi Mandiri Menurut Dokter

Syarat Rumah yang Bisa Dipakai Isolasi Mandiri Menurut Dokter

Oh Begitu
Satu Dosis Vaksin AstraZeneca 82 Persen Efektif Lawan Varian Beta dan Gamma

Satu Dosis Vaksin AstraZeneca 82 Persen Efektif Lawan Varian Beta dan Gamma

Oh Begitu
Tingkat Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Capai 36 Persen, Ini Penyebabnya

Tingkat Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Capai 36 Persen, Ini Penyebabnya

Oh Begitu
Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Ini Faktanya

Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Ini Faktanya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X