Alasan Kita yang Tinggal di Kota Juga Harus Peduli Hutan

Kompas.com - 27/06/2019, 18:06 WIB
Suasana di Hutan Kota GBK terik, Rabu (19/6/2019). KOMPAS.com/Vitorio MantaleanSuasana di Hutan Kota GBK terik, Rabu (19/6/2019).

KOMPAS.com – Masyarakat perkotaan saat ini boleh dibilang sudah cukup sadar akan isu lingkungan dan berupaya untuk menerapkan gaya hidup sehat yang juga ramah lingkungan dan sustainable.

Isu konservasi dan kelestarian lingkungan seperti upaya reforestasi, penurunan emisi karbon, dan pembatasan penggunaan limbah plastik agaknya tidak jarang dikampanyekan di kawasan urban.

Namun, kepedulian seperti ini belum menyentuh seluruh masyarakat urban. Bagi sebagian kalangan, lingkungan perkotaan tempat mereka tinggal merupakan wilayah yang terpisah dan tidak berhubungan sama sekali dengan kondisi hutan yang jauh di tempat lain.

Lantas, bagaimana caranya agar masyarakat memahami hubungan antara hutan dan kota? Apa saja dampak keberadaan hutan bagi kawasan perkotaan?

Baca juga: Laporan PBB: Biodiversitas Hutan Terancam Banyak Faktor, Apa Saja?

“Ketika kita bicara tentang hutan, tidak hanya soal hutan yang jauh dari kota saja seharusnya,” ujar Dean Yulindra Affandi, Koordinator Sains dan Penelitian WRI Indonesia, saat ditemui di Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Dean menjelaskan bahwa masyarakat seringkali tidak sadar bahwa terdapat hutan kota di sekeliling pemukiman mereka yang berpengaruh langsung terhadap kehidupan sehari-hari.

Menurut Dean, pembagian hutan terkait jaraknya dari perkotaan dapat dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu hutan dalam kota, hutan sekitar kota, dan hutan yang jauh dari kota. Masing-masing punya peranan dan fungsinya sendiri bagi perkotaan.

Sebagai contoh, hutan dalam kota berperan untuk menyerap karbon dioksida dan polutan lain yang menyelimuti atmosfer perkotaan. Hutan ini dapat menjadi indikator tingkat kesehatan masyarakat sekitarnya.

“Kualitas udara di Jakarta itu tidak sehat. Menurut studi, masyarakat akan lebih sehat dan bahagia apabila kualitas hutan kotanya baik. Polusi di Jakarta bisa dikurangi dengan penambahan Ruang Terbuka Hijau sebagai hutan kota,” jelasnya.

Baca juga: Memaknai Kelestarian Hutan dari Perspektif Berbagai Agama di Indonesia

Pepohonan yang rimbun di sekitar perkotaan dapat mengimbangi emisi karbon yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil setiap harinya. Hal ini dapat mengurangi risiko terjadinya pernyakit saluran pernapasan akibat gas buangan kendaraan dalam jangka panjang.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X