Memaknai Kelestarian Hutan dari Perspektif Berbagai Agama di Indonesia

Kompas.com - 19/05/2019, 11:01 WIB
Penampilan S.A.T.U, kolaborasi musisi lintas agama yang memeriahkan acara Jamuan Hutan Itu Beragam, Jumat (17/5/2019) Penampilan S.A.T.U, kolaborasi musisi lintas agama yang memeriahkan acara Jamuan Hutan Itu Beragam, Jumat (17/5/2019)

KOMPAS.com – Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan yang memiliki tingkat keanekaragaman tinggi. Hal itu tidak terlepas dari keberadaan hutan yang tersebar di berbagai pulau yang menyusun berbagai ekosistem alamiah Indonesia.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kemajuan teknologi, dan gencarnya arus urbanisasi, keberadaan hutan sebagai identitas nasional agaknya luput dari perhatian masyarakat umum. 

Hal ini pun secara tidak langsung mengancam kelestarian hutan maupun berbagai bentuk budaya yang dilahirkan melalui inspirasi yang didapat dari hutan itu sendiri.

Untuk itu, gerakan Hutan Itu Indonesia (HII) mengadakan berbagai rangkaian program Hutan Itu Beragam, yang ditutup dengan acara Jamuan Hutan Itu Beragam sekaligus merayakan Hari Hutan Indonesia dengan tema "Aku, Kamu, Kita Damai di Hutan" di Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Baca juga: Laporan PBB: Biodiversitas Hutan Terancam Banyak Faktor, Apa Saja?

Acara ini diselenggarakan untuk membangun kolaborasi lintas agama untuk dapat menjadi bagian dari gerakan untuk menjaga hutan Indonesia, dan menanamkan kepedulian terhadap hutan pada berbagai pemuda dari latar belakang agama yang berbeda.

Dalam acara tersebut, diadakan diskusi yang membahas kesamaan makna ayat-ayat Kitab Suci dari masing-masing agama, terutama yang berkaitan dengan perbedaan serta hubungan manusia dengan alam.

Saat diskusi lintas agama berlangsung, masing-masing nara sumber mengungkapkan pandangannya sesuai latar belakang keimanan mereka.

"Keberadaan flora dan fauna hutan perlu dijaga, karena manusia memiliki nafsu juga akal untuk mengontrol sikap. Setiap agama pun memiliki perpektif masing-masing, tetapi bermakna sama dalam hal rasa kemanusiaan. Kita beragam dan harus hidup saling berbagi dan bergotong royong," ujar Hendry Dwiva, perwakilan dari Kementrian Agama DKI Jakarta.

Sementara itu, Abdiel Fortunatus Tanias dari Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) mengungkapkan bahwa manusia bertanggung jawab atas segala ciptaan karena memiliki akal budi untuk memelihara dan mengelola Bumi berserta segala isinya.

Selain itu, dibahas pula mengenai penerapan ajaran agama terhadap sikap kita terhadap alam sebagai bentuk ibadah, serta bagaimana keanekaragaman hayati menjadi cerminan keragaman sosial yang dimiliki Indonesia.

"Jika kita bicara mengenai bakti kepada alam, di dalam agama Khonghucu ada banyak penerapannya. Contohnya, jika kita menebang pohon tidak tepat pada waktunya maka kita tidak berbakti. Jika kita memotong hewan tidak tepat pada waktunya, kita tidak berbakti. Artinya, jika kita tepat pikir pada waktunya, maka keberlanjutan alam akan terus terjaga," terang Peter Lesmana dari Majelis Tinggi Khonghucu Indonesia (MATAKIN).

Baca juga: Menelusuri Hutan Batang Toru, Mencari Sosok Orangutan Tapanuli

"Keberagaman hutan sangat luas, selain flora dan fauna juga keberagaman bahasa dan budaya masyarakat di dalamnya. Hutan perlu dijaga sebab selain sebagai paru-paru dunia, juga memberikan banyak hasil bagi kita," sambung tokoh keberagaman dan hutan Nyoman Udayana Sangging, menutup diskusi.

Selain tokoh lintas agama, acara ini juga turut dihadiri oleh mitra kerjasama dan influencer yang selama ini terlibat dalam program Hutan Itu Beragam, seperti Putri Indonesia 2010, Nadine Alexandra Dewi dan musisi Dewa Budjana.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Prof Cilik
Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Kita
[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

Oh Begitu
Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X