Kompas.com - 26/06/2019, 14:05 WIB
Polusi udara terlihat di langit Jakarta, Senin (3/9/2018). Menurut pantauan kualitas udara yang dilakukan Greenpeace, selama Januari hingga Juni 2017, kualitas udara di Jabodetabek terindikasi memasuki level tidak sehat (unhealthy) bagi manusia. KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMOPolusi udara terlihat di langit Jakarta, Senin (3/9/2018). Menurut pantauan kualitas udara yang dilakukan Greenpeace, selama Januari hingga Juni 2017, kualitas udara di Jabodetabek terindikasi memasuki level tidak sehat (unhealthy) bagi manusia.

KOMPAS.com - Menurut data AirVisual, situs penyedia peta polusi online harian kota-kota besar di seluruh dunia, pada Selasa (25/6/2019) pukul 8.00 WIB Jakarta menempati urutan pertama kota dengan tingkat polusi tertinggi.

Kemarin, Nilai Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta 240 atau dalam kategori sangat tidak sehat. Kategori sangat tidak sehat berada di rentang nilai AQI 200-300, dan dapat memengaruhi kesehatan masyarakat.

Pada Selasa sekitar pukul 12.24 nilai AQI Jakarta menunjukkan angka 164 dan berada di urutan nomor 4 setelah Dubai, New Delhi, dan Santiago.

Meski begitu, angka ini masih berada di kategori tidak sehat, yakni antara 151-200.

Baca juga: Polusi Udara, Pembunuh Senyap di Ibu Kota

Namun, apa yang dimaksud AQI?

Berdasar keterangan laman airnow.gov, penghitungan AQI berdasarkan lima polutan udara utama, yakni ozon tingkat dasar, polusi partikel, karbon monoksida, sulfur dioksida, dan nitrogen dioksida.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam hal ini, partikel ozon dan udara di permukaan tanah merupakan dua polutan yang menimbulkan ancaman terbesar bagi kesehatan manusia.

Nilai AQI mulai dari 0 sampai 500. Semakin tinggi nilai AQI, artinya semakin besar tingkat polusi udara dan semakin besar masalah kesehatan yang bisa ditimbulkan.

Jika nilai AQI berada di bawah 100, ini sudah sesuai dengan standar kualitas udara untuk polutan dan aman untuk kesehatan. Namun jika sudah di atas 100, udara dianggap sebagai masalah bagi kelompok orang tertentu yang sangat sensitif.

Perlu digarisbawahi, situs ini mengukur indeks standar pencemaran udara (ISPU) di kota-kota besar dunia, dengan alat pemantau yang dipasang di kompleks Kedutaan Besar AS di tiap negara. Artinya, data yang dipantau secara real time dapat berubah setiap saat.

Keadaan polusi udara berdasar alat SPKU yang dimiliki Indonesia

Selama ini Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di ibu kota diukur berdasar 5 stasiun pemantau kualitas udara (SPKU) yang ada di Provinsi DKI Jakarta.

5 SPKU tadi berada di Bundaran HI, Kelapa Gading, Jagakarsa, Lubang Buaya, dan Kebon Jeruk.

Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Energi Greenpeace Indonesia mengatakan bahwa tingkat polusi udara di Jakarta meningkat pada pagi hari.

"Memang di Jakarta biasanya kalau pagi tinggi banget, menjelang siang mulai jam 10 (pagi) sudah mulai menurun," ujar Bondan kepada Kompas.com, Rabu (26/6/2019).

Dia pun menambahkan, angka PM 2,5 yang diambil dari Kedubes AS kurang lebih sama dengan alat pemantau yang ada di KLHK, Gelora Bung Karno.

Partikulat (PM 2.5) adalah partikel debu yang berukuran 2.5 mikron. Jika kita bandingkan dengan sehelai rambut manusia, setara dengan 1/30 nya. Standar yang diterapkan WHO dan Nasional itu adalah batas konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan berada dalam udara ambien.

Perubahan tingkat polusi udara yang berlangsung dalam hitungan jam atau menit ini bisa dipengaruhi oleh arah mata angin, klimatologi, dan lain sebagainya.

Baca juga: WHO: Perangi Polusi Udara Bisa Perpanjang Umur Manusia

Sementara itu sumber polutan yang ramai diperdebatkan netizen sebenarnya ada banyak. Namun untuk memastikan hal tersebut, Bondan berharap pemerintah daerah atau kota mau transparan dengan masyarakat dan membuka data tersebut agar dapat ditemukan solusi bersama.

"Harusnya ini pemerintah dibuka datanya. Karena itu akan menjadi kajian sumber polutan kita datang dari mana saja. Hingga saat ini data resmi itu tidak pernah ditemukan," ujar Bondan.

Hal ini tidak berlaku untuk Jakarta saja, tapi semua pemerintah daerah di seluruh Indonesia. Bagaimanapun, polusi udara juga dirasakan di berbagai daerah, meski dengan tingkat polutan berbeda.

"Minimal tiap tahun dibuka dan ada data yang mewakili tiap musim. Ini karena tiap musim arah anginnya berbeda," imbuh dia.

Bila semua data sumber polutan dimiliki, setidaknya warga mengetahui, dan solusi dapat ditemukan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.