Lestarikan Sejarah, LIPI Digitalisasi Naskah Kuno Selama 17 Tahun

Kompas.com - 25/06/2019, 17:27 WIB
Seminar internasional bertajuk Indonesian heritage anda library collection sebagai bentuk kerja sama antara LIPI dan KITLV di Jakarta, Selasa (25/6/2019) Seminar internasional bertajuk Indonesian heritage anda library collection sebagai bentuk kerja sama antara LIPI dan KITLV di Jakarta, Selasa (25/6/2019)

KOMPAS.com – Ibu Pertiwi memiliki riwayat panjang, jauh sebelum berdirinya Negara Indonesia.

Semua catatan sejarah dan budaya umumnya tersimpan dalam bentuk naskah kuno. Entah itu berupa catatan dan dokumen bersejarah, surat kabar, ilustrasi, dan sebagainya.

Sayangnya, dokumentasi sejarah dalam bentuk fisik ini rentan rusak karena dimakan umur. Hal inilah yang akhirnya membuat LIPI memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menyimpan naskah dan dokumen kuno dalam bentuk perpustakaan digital.

" Perpustakaan adalah pusat peradaban. Selain dituntut untuk mampu menjaga dan mempertahankan koleksi, tantangan saat ini adalah membuat publik dapat mengakses dan memanfaatkan koleksi bernilai sejarah," ujar Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI, Mego Pinandito saat seminar bertajuk Indonesian Heritage and Library Collection di Jakarta, Selasa (25/6/2019).

Baca juga: Pertama Kalinya, Naskah Kuno Keraton Yogyakarta Dipamerkan ke Publik

Mego menjelaskan, LIPI tengah berupaya meningkatkan kualitas dokumentasi digital terkait Indonesia.

Nantinya diharapkan perpustakaan digital dapat menyediakan informasi bagi publik yang dapat diakses lewat aplikasi dari perpustakaan LIPI.

Dalam hal ini, LIPI juga bekerja sama dengan Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (KITLV), yang merupakan bagian dari Leiden University Libraries, institusi yang saat ini menyimpan koleksi sejarah Indonesia terlengkap di dunia.

"Indonesia adalah salah satu kawasan yang paling menarik untuk diteliti dan paling penting bagi Leiden," ungkap Kurt De Belder, Director of Leiden University Libraries & University Press.

Menurut De Belder, upaya pembuatan sistem pengarsipan digital ini sangat penting, bukan hanya untuk menjaga kelestarian dokumen sejarah, tapi juga dapat menjadi pintu gerbang yang digunakan berbagai peneliti secara terbuka.

"Kami ingin agar koleksi ini terus dimanfaatkan oleh pihak peneliti, pelajar, dan mahasiswa dari manapun, khususnya karena Leiden merupakan pusat studi Asia di dunia barat," imbuhnya.

Baca juga: Pulangnya 75 Manuskrip Kuno Keraton Yogyakarta yang Dirampas Inggris

Bagi pihak LIPI sendiri, kerja sama ini merupakan perpanjangan dari kerja sama antara LIPI dan KITLV yang telah berlangsung sejak tahun 2002.

"Kita ingin ada kerja sama lanjutan di wilayah kita sendiri dengan bantuan dari expertise dari Leiden. Nanti rencananya kita dapat mengembangkan ke bidang lain, misalnya seperti pariwisata bersejarah yang tercatat dalam naskah-naskah tersebut," pungkas Mego.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X