Kompas.com - 16/06/2019, 11:02 WIB
Penelitian terbaru mengungkapkan ada 2 kategori jam biologis selain pagi dan malam hari. science alertPenelitian terbaru mengungkapkan ada 2 kategori jam biologis selain pagi dan malam hari.

KOMPAS.com - Sains ternyata mencatat, manusia memiliki jam biologis yang berbeda. Ada yang suka bangun pagi kemudian tidur lebih awal, namun ada juga yang lebih produktif jika mereka begadang dan tidur di hari berikutnya.

Hal ini dicermati oleh Emil Kraepelin, psikiater Jerman pada pergantian abad ke-20. Penelitian selama bertahun-tahun inilah yang kemudian menjadi konsep untuk menggolongkan manusia ke dalam dua kategori berdasarkan produktifitasnya, tipe pagi dan malam. Setidaknya konsep ini masih dipakai hingga sekarang dan paling dikenal orang.

Namun setelah para ahli melakukan penelitian lagi, terbaru mereka menemukan dua tambahan tipe produktivitas manusia, yakni tipe siang hari dan tipe sore hari.

Baca juga: Punya Jam Biologis Reproduksi, Ini Waktu Terbaik Pria untuk Punya Anak

Peneliti menjelaskan jika tipe siang hari biasanya akan mengantuk di antara jam 11.00-15.00 siang hari dan mereka akan terjaga di waktu pagi serta sore hari.

Sementara kebalikannya, tipe sore hari akan merasa mengantuk di pagi dan sore hari. Mereka akan terjaga serta memiliki performa terbaik pada waktu siang dan sore hari.

Hasil ini didapat berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan secara online terhadap 1.305 orang. Sebagian peserta adalah perempuan muda.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mereka di minta untuk mengisi kuisioner yang bertujuan untuk menentukan preferensi ritme sirkadian, kualitas tidur, dan prediksi bangun pada waktu tertentu secara acak.

Dengan menggunakan analisis statistik, para peneliti kemudian mengurutkan respon para peserta menjadi empat chronotypes atau jam biologis, yakni pagi, siang, sore, dan malam.

Baca juga: Laba-laba Tanpa Jet Lag Ini Punya Jam Biologis Tercepat di Dunia

"Hasilnya, sebanyak 631 peserta diidentifikasi memiliki jam biologis pagi atau malam. Sedangkan 550 memiliki jam biologis siang dan sore hari," tulis peneliti dalam laporan mereka seperti dikutip dari Science Alert, Selasa (11/6/2019).

Meski begitu, perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi jam biologis seseorang. Seperti misalnya genetik, psikososial, dan mungkin juga lingkungan. Misalnya saja pada orang dengan jam biologis malam, mereka memilih mengerjakan pada malam hari supaya keesokannya lebih santai.

Penelitian telah dipublikasikan dalam jurnal Personality and Individual Differences.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X