Kompas.com - 18/11/2017, 21:18 WIB
Seekor tarantula berada dikandangnya di Spider Lovers Petshop, Bandung, Jawa Barat Jumat (4/8/2017). The Ming Chu berhasil mengembangbiakan beragam jenis Tarantula dari dalam dan luar negeri untuk dipelihara menjadi hewan kesayangan dan total yang dipelihara lebih dari 1.000 ekor tarantula. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGSeekor tarantula berada dikandangnya di Spider Lovers Petshop, Bandung, Jawa Barat Jumat (4/8/2017). The Ming Chu berhasil mengembangbiakan beragam jenis Tarantula dari dalam dan luar negeri untuk dipelihara menjadi hewan kesayangan dan total yang dipelihara lebih dari 1.000 ekor tarantula.
|
EditorResa Eka Ayu Sartika

KOMPAS.com - Manusia memiliki jam biologis pada otak mereka. Setiap hari, ada pasang surut hormon yang memaksa kita untuk tidur dan bangun. Jam ini mengikuti 24 jam rotasi bumi.

Selain manusia, sebagian besar ritme sirkadian (perputaran waktu dalam satu hari, red) makhluk hidup lain juga 24 jam. Namun, hal itu tidak berlaku untuk semua makhluk hidup.

Dirangkum dari Washington Post, Selasa (14/11/2017), belum lama ini, ahli biologi menemukan penyimpangan ritme sirkadian di dalam hutan. Mereka menemukan tiga laba-laba jenis Cyclosa yang memiliki siklus hidup dalam sehari hanya 17 sampai 19 jam saja.

"Kami menemukan periode terpendek. Kami menduga pasti ada beberapa fleksibilitas aneh dalam jam laba-laba yang menyebabkan hal ini terjadi. Ini gila," ujar Darrell Moore, ahli neurobiologi yang mempelajari invertebrata dari East Tennessee State University dalam presentasi di konferensi Society for Neuroscience di Washington, Amerika Serikat.

BACA: Bagi Betina Laba-laba Ini, Bercinta Cukup Sekali Seumur Hidup

Sama seperti kita, para ilmuwan menemukan bahwa paparan cahaya mengatur ulang jam laba-laba ini. Namun, laba-laba ini mengalami pergeseran jam yang sangat jauh dari normal.

Natalia Toporikova, profesor biologi dari Universitas Lee, Virginia, dan seorang koleganya dalam penelitian ini menyebut hewan ini sebagai "laba-laba tanpa jet lag". Pasalnya, hewan ini bisa melewatkan lima zona waktu sekaligus, tetapi sama sekali tidak terganggu kehidupannya.

Sebetulnya, Moore sedang menyelidiki apa yang membuat laba-laba ini bisa memiliki dua siklus waktu ketika dia menemuka ritme sirkadian Cyclosa yang begitu pendek.

Sama seperti anggota keluarga Araneidae lainnya, laba-laba ini juga membuat jaring melingkar. Namun, Cyclosa juga membangun semacam puing atau reruntuhan berisi serangga mati, kotoran, dan sampah daun di tengah jaring.

Pada siang hari, mereka akan bersembunyi di tengah puing-puing itu dan tidak bergerak untuk menghindari pemangsa. Mereka kemudian akan bangun pada malam hari dan menjadi sangat aktif dalam memperbaiki jaring dan membersihkan sampah selama tiga sampai lima jam sebelum matahari terbit.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Fenomena
Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Oh Begitu
Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Oh Begitu
Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Oh Begitu
Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Kita
Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

Oh Begitu
Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Oh Begitu
Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Fenomena
Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Fenomena
Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Kita
Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Prof Cilik
Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Kita
Matahari akan Terbenam Lebih Lambat di Indonesia Akhir Januari 2022, Ada Apa?

Matahari akan Terbenam Lebih Lambat di Indonesia Akhir Januari 2022, Ada Apa?

Fenomena
Fenomena Ekuiluks Terjadi di Indonesia Sebulan ke Depan, Apa Dampaknya?

Fenomena Ekuiluks Terjadi di Indonesia Sebulan ke Depan, Apa Dampaknya?

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.