Alasan Kenapa Karbohidrat Olahan Picu Obesitas dan Beragam Penyakit

Kompas.com - 11/06/2019, 18:32 WIB
Ilustrasi tepung teriguTimmary Ilustrasi tepung terigu

KOMPAS.com - Karbohidrat merupakan sumber energi yang sangat penting bagi sebagian besar makhluk hidup. Namun, beberapa karbohidrat justru minim gizi dan telah dikaitkan dengan peningkatan penyakit serius seperti obesitas, jantung, dan diabetes tipe 2.

Hal itu terutama terkandung dalam karbohidrat olahan, di mana telah melalui proses penghilangan banyak serat dan nutrisi.

Meski digunakan sebagai sumber utama karbohidrat diet di banyak negara, semua ahli gizi menghimbau untuk membatasi konsumsi karbohidrat olahan.

Lantas, apa itu karbohidrat olahan?

Baca juga: Hati-hati, Diet Rendah Karbohidrat Sebabkan Gangguan Ritme Jantung

Merujuk artikel Health Line, karbohidrat olahan yang paling sering kita temui adalah gula dan biji-bijian olahan.

Gula di sini termasuk sukrosa yang ada di dalam gula meja dan sirup jagung, kemudian sirup agave.

Sementara biji-bijian olahan adalah biji-bijian yang serat dan gizinya telah dihilangkan. Hal ini termasuk tepung putih dari gandum olahan.

Seperti telah disinggung di atas, karbohidrat olahan tidak direkomendasikan ahli gizi karena sama sekali tidak memiliki serat, vitamin, dan mineral. Karena alasan ini, karbohidrat olahan dianggap memiliki kalori "kosong".

Selain itu, karbohidrat olahan dapat dicerna dengan lebih cepat dan memiliki indeks glikemik yang tinggi.

Indeks glikemik adalah angka yang menunjukkan potensi peningkatan gula darah dari karbohidrat yang tersedia pada suatu pangan atau secara sederhana dapat dikatakan sebagai tingkatan atau rangking pangan menurut efeknya terhadap kadar glukosa darah.

Untuk diketahui, makanan yang tinggi indeks glikemik mampu menambah nafsu makan dan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko banyak penyakit seperti obesitas, jantung, diabetes tipe 2, kanker usus, dan berbagai masalah pencernaan.

Meski begitu, gula dan biji-bijian olahan terus dipakai dalam pembuatan produk makanan seperti tepung putih, roti, kue kering, soda, makanan ringan, pasta, permen, sereal, dan tambahan gula.

Bagaimana karbohidrat halus memengaruhi nafsu makan dan memicu obesitas?

Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X