Hati-hati, Diet Rendah Karbohidrat Sebabkan Gangguan Ritme Jantung

Kompas.com - 07/03/2019, 18:07 WIB
Ilustrasi menu diet keto ThitareeSarmkasatIlustrasi menu diet keto

KOMPAS.com – Ada satu lagi alasan baru untuk lebih berhati-hati dengan diet rendah karbohidrat. Studi terbaru menemukan bahwa diet ini bisa menyebabkan gangguan ritme jantung yang berujung pada stroke.

Gangguan ritme jantung yang dimaksud para peneliti adalah fibrilasi atrial, biasa disingkat A-fib atau AF. Salah satu kondisi jantung yang paling sering didiagnosis, penderita A-fib juga ditemukan lima kali lebih berisiko mengalami stroke dan gagal jantung dibandingkan kebanyakan orang.

Dr Xiaodong Zhuang, pakar kardiologi di Sun Yat-Sen University, Guangzhou, China, pun mengatakan, melihat potensi pengaruhnya pada arrhythmia (gangguan ritme jantung), studi kami menyarankan agar metode pengontrolan berat badan ini (diet rendah karbohidrat) direkomendasikan dengan lebih hati-hati.

Dipresentasikan dalam konferensi American College of Cardiology, Zhuang dan koleganya melakukan studi ini sebagai kelanjutan dari studi sebelumnya yang menemukan bahwa diet rendah karbohidrat memperpendek masa hidup.

Baca juga: Diet Rendah Karbohidrat Ditemukan Memperpendek Masa Hidup, kecuali...

Studi tersebut dilakukan terhadap setengah juta orang yang diminta untuk mencatat makanan mereka dan informasi gaya hidup lainnya selama 22 tahun.

Dalam studi kali ini, Zhuang dan kolega menggunakan data 14.000 pasien dalam studi, yang ketika baru mulai berpartisipasi tidak mengalami A-fib. Hasilnya menunjukkan bahwa 1.900 di antaranya mengalami A-fib setelah 22 tahun berlalu.

Kaitan antara A-fib dan diet rendah karbohidrat pun menjadi semakin jelas ketika para peneliti membandingkan makanan mereka.

Partisipan yang konsumsi karbohidratnya tidak sampai 45 persen kalori harian ditemukan 18 persen lebih mungkin mengalami Afib dibandingkan partisipan yang mengonsumsi karbohidrat sebanyak 45-52 persen kalorinya.

Baca juga: Mana yang Lebih Baik, Diet Rendah Karbohidrat atau Rendah Lemak?

Meski demikian, para peneliti pun mengakui bahwa konsumsi karbohidrat yang terlalu tinggi juga meningkatkan risiko A-fib. Akan tetapi, risiko A-fib yang mereka alami masih 16 persen lebih rendah dibanding orang-orang yang mengikuti diet rendah karbohidrat.

Zhuang mengatakan, diet rendah karbohidrat diasosiasikan dengan peningkatan risiko A-fib, tidak peduli apa tipe protein atau lemak yang digunakan untuk menggantikan karbohidratnya.

Hal ini, menurut para peneliti, mungkin disebabkan oleh peningkatan konsumsi daging merah dan lemak jenuh yang dapat meningkatkan risiko pembengkakan kardiovaskular. Seseorang yang mengikuti diet rendah karbohidrat kemungkinan juga mengonsumsi lebih sedikit buah-buahan dan sayuran yang mengandung antioksidan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X