Kompas.com - 01/06/2019, 14:14 WIB
Warung lesehan Lamongan Indah Bu Anny yang viral karena mematok harga Rp 700.000 untuk seporsi nasi dan tiga lauk di Tegal, Jateng. Dok. Instagram/@makassar_iinfoWarung lesehan Lamongan Indah Bu Anny yang viral karena mematok harga Rp 700.000 untuk seporsi nasi dan tiga lauk di Tegal, Jateng.

KOMPAS.com - Memberikan harga pada barang atau jasa yang ditawarkan adalah hal yang cukup menyulitkan. Pasalnya, tidak mudah menemukan harga yang membuat kita tetap untung dan diterima oleh pembeli.

Kisah sulitnya memberi harga baru-baru ini kita lihat dalam viralnya harga makanan di sebuah warung lesehan seafood di Tegal.

Kabar ini bermula setelah seorang pembeli mengeluh di media sosial jarena harus membayar Rp 700.000 setelah membeli makanan untuk porsi dua orang.

Harga tersebut kemudian mendapat banyak komentar, terutama cibiran, dari warganet.

Baca juga: Paska Cukai Hasil Tembakau, Harga Rokok Masih Terjangkau Anak-Anak

Cerita ini membuktikan bahwa memberi harga pada barang yang ditawarkan bukan perkara mudah.

Dalam pemberian harga, tentu pedagang ingin mendapatkan keuntungan yang maksimal. Tapi, di lain sisi, harga juga harus dapat dijangkau oleh target pasar yang dituju.

Saking sulitnya menentukan harga ini, ilmu sekaligus seni memberikan harga menjadi bagian penting yang harus dipelajari. Pentingnya ilmu memberikan harga baru disadari ketika deregulasi industri penerbangan di AS pada 1970-an.

Saat itu, maskapai mulai menyadari bahwa permintaan penerbangan selalu berubah hampir setiap hari. Untuk itu, mereka mulai berpikir bagaimana dapat menghasilkan banyak keuntungan dengan memvariasikan harga sesuai permintaan.

Maskapai-maskapai AS pada saat itu kemudian mempekerjakan ahli statistik untuk mendapatkan rumus yang tepat. Tapi, tentu saja, untuk perdagangan yang lebih sederhana kita tidak memerlukan rumus yang rumit itu.

Melansir dari Ecwid, ada 4 hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan harga.

1. Mengadopsi Harga Berbasis Demografis

Kebanyakan penentuan harga gagal dan membuat dagangan tidak laku karena tidak memperhitungkan demografi, nilai produk, atau nilai merek.

Untuk mengatasi hal ini, adopsi strategi penetapan harga berbasis demografis, yaitu penetapan harga produk disesuaikan dengan target pengguna atau pembeli.

Dalam hal ini, Anda memerlukan data demografis target pasar yang disasar. Misalnya saja, berapa pendapatan rata-rata target pembeli, jenis kelamin, lokasi, hingga pendidikannya.

Halaman:


Sumber ECWID
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X