Mudik ke Garut, Bagaimana Sih Asal Nama Kota Dodol Ini?

Kompas.com - 29/05/2019, 12:32 WIB
Foto aerial lokasi wisata Situ Bagendit di Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (26/3/2019). Pemerintah Pusat dan Pemprov Jabar akan merevitalisasi Situ Bagendit seluas 150 hektare menjadi destinasi wisata kelas dunia dengan mengalokasi anggaran sebesar Rp130 miliar yang akan dimulai pada tahun 2019 ini. ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMIFoto aerial lokasi wisata Situ Bagendit di Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (26/3/2019). Pemerintah Pusat dan Pemprov Jabar akan merevitalisasi Situ Bagendit seluas 150 hektare menjadi destinasi wisata kelas dunia dengan mengalokasi anggaran sebesar Rp130 miliar yang akan dimulai pada tahun 2019 ini.


KOMPAS.com - Menjelang lebaran sepekan lagi, banyak orang sudah mulai meninggalkan tanah rantau untuk pulang kampung alias mudik.

Salah satu daerah yang menjadi tujuan para pemudik adalah Garut. Kawasan yang dikenal sebagai kota dodol dan Swiss-nya Jawa ini sudah dikenal sebagai tujuan wisata sejak awal abad ke-20.

Hamparan pegunungan, udara sejuk, dan lingkungan asri yang dimiliki Garut menjadikan kota ini dijuluki sebagai kota Intan oleh Soekarno. Bukan tanpa alasan, ini karena saat itu Garut merupakan kota terbersih di Indonesia.

Namun tak adil rasanya jika kita hanya menikmati keelokan Garut tanpa mengetahui asal nama atau toponomi wilayah tersebut.

Baca juga: Mudik ke Kota Kembang, Bagaimana Sih Asal Mula Nama Bandung?

Sejarah kabupaten Garut berawal dari pembubaran kabupaten Limbangan pada 1811 oleh Daendles dengan alasan produksi kopi dari Limbangan menurun hingga titik nol dan bupati Limbangan menolak menanam nila alias indigo.

Atas kejadian tersebut, pada 16 Februari 1813, Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles mengeluarkan surat keputusan tentang pembentukan kabupaten Limbangan di kota Suci.

Namun untuk dijadikan kabupaten, wilayah kota Suci dinilai tidak memenuhi syarat karena dinilai terlalu sempit. Oleh sebab itu, Bupati Limbangan Adipati Adiwijaya (1813-1831) membentuk tim khusus untuk mencari lokasi bakal kabupaten.

Awalnya, tim menunjuk kawasan Cumurah yang letaknya sekitar  3 kilometer sebelah barat Suci (sekarang dikenal dengan nama kampung Pidayeuheun). Akan tetapi, di Cumurah ketersediaan air bersih langka sehingga tidak layak dijadikan kabupaten.

Kemudian tim pergi ke arah Barat, sekitar 5 kilometer dari Suci dan menemukan wilayah yang dianggap cocok untuk kabupaten.

Selain tanahnya subur, tempat tersebut memiliki mata air yang mengalir ke Sungai Cimanuk serta pemandangannya indah karena dikelilingi beberapa gunung, seperti Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Guntur,  Gunung Galunggung,  Gunung Talaga Bodas, dan Gunung Karacak.

Nah, ketika seorang tim ekspedisi mencari sumber mata air berupa telaga kecil yang tertutup semak belukar berduri (Marantha), tangannya tak sengaja tergores duri sampai berdarah atau dalam bahasa sunda disebut kakarut.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X