Sebelum Kacamata Ditemukan, Bagaimana Orang dengan Mata Minus Melihat Jauh?

Kompas.com - 15/04/2019, 17:35 WIB
Ilustrasi kacamataBebenjy Ilustrasi kacamata

Paus Leo X sendiri adalah salah satu anggota keluarga Medici yang berpengaruh secara politis dan terkenal dengan rabun jauhnya.

"Karena cara penggunaan lensa itu dipegang, Anda dapat melihatnya, dan sang seniman telah menangkap efek yang dimiliki lensa itu," ungkap Handley dikutip dari Live Science, Minggu (14/04/2019).

"Jadi, kita bisa mengatakan bahwa itu adalah lensa minus yang digunakan untuk orang dengan rabun jauh," imbuhnya.

Tak Banyak Myopia

Untuk diketahui, myopia atau rabun jauh adalah sebuah kondisi modern. Ya, tingkat myopia telah meningkat tajam dalam beberapa dekade terakhir.

Bahkan, para peneliti memproyeksikan bahwa setengah populasi dunia akan mengalami rabun jauh pada 2050.

Sebuah penelitian oleh College of Optometrists menemukan bahwa kini myopia dua kali lebih umum pada anak-anak di Inggris dibanding tahun 1960-an.

Di negara Asia, prevalensi mata minus bahkan meningkat lebih tinggi lagi. Di Seoul, Korea Selatan, sekitar 95 persen pria berusia 19 tahun telah mengalami rabun jauh.

Baca juga: Peneliti Kembangkan Obat Tetes Untuk Perbaiki Mata Minus Tanpa Operasi

Kini, dokter sedang mencari tahu penyebab di balik tren ini. Beberapa ahli menyebut sebabnya adalah genetik dan peningkatan waktu belajar serta memainkan gawai.

Beberapa peneliti lain menemukan bahwa anak-anak yang lebih sedikit bermain di luar lebih mungkin mengembangkan rabun jauh.

Terlepas dari apa yang mendorong tren ini, Handley menyebut myopia mungkin tidak mempengaruhi banyak orang di masa lalu. Dia menyebut hal ini dibuktikan dengan pembuatan kacamata rabun jauh yang lebih "terlambat".

Handley mengatakan bahwa ini menunjukkan bahwa merawat sejumlah kecil orang dengan rabun jauh tidak dianggap sebagai prioritas. Bahkan, kemungkinan orang dengan rabun jauh justru ditempatkan pada profesi khusus sehingga menganggap myopia bukan sebagai kecacatan.

"Orang rabun jauh dari 'pengobatan', sebenarnya didorong untuk tetap dalam kondisi rabun mereka, karena itu sebenarnya ideal untuk mereka melakukan pekerjaan khusus," kata Handley.

"Bahkan ada beberapa bukti bahwa mereka hampir mengembangbiakkan orang dengan harapan menghasilkan anak-anak rabun yang akan menjadi iluminator manuskrip di masa depan. Beginilah masyarakat beradaptasi dengan apa yang kita sebut kecacatan. Mereka tidak menganggapnya sebagai kecacatan," sambungnya.

Tapi, masalah rabun jauh ini ternyata lebih kompleks bagi keseharan msayarakat. Rabun jauh yang tidak diatasi bisa menghambat pendidikan anak-anak, menyebabkan kecelakaan di jalan, hingga menghambat pekerjaan.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X