Kompas.com - 07/03/2018, 17:35 WIB
ilustrasi kacamata ilustrasi kacamata

KOMPAS.com - Kacamata dan lensa kontak saat ini telah menjadi benda yang lazim ditemui. Salah satu alasannya adalah gangguan penglihatan.

Bagi orang dengan gangguan penglihatan, mungkin cerita perjuangan mengenakan lensa korektif adalah hal yang dirasakan sehari-hari. Mulai dari mata lelah atau kering, bingkai kacamata yang tak nyaman, hingga sakit kepala akibat lensa yang tak sesuai hampir selalu dirasakan.

Namun, kini ilmuwan berusaha untuk menghilangkan keluhan-keluhan tersebut. Mereka mengembangkan obat tetes mata yang memungkinkan untuk memperbaiki penglihatan seseorang.

Tentunya, obat tetes mata tersebut diharapkan bisa menghilangkan kebutuhan terhadap kacamata atau lensa kontak yang mahal dan tak nyaman.

Baca juga: Wanita dengan Mata Minus Bisa Melahirkan Normal, Asal...

Ilmuwan pengembang obat tetes mata tersebut adalah David Smadja, seorang dokter mata dari Shaare Zedek Medical Center, Israel. Dia menggunakan nanopartikel untuk mengoreksi gangguan penglihatan seseorang.

Nanopartikel sendiri adalah bisang baru yang melibatkan pembentukan material atau struktur baru dalam ukuran yang sangat kecil, mendekati ukuran molekular.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Smadja tak bekerja sendiri. Dia bersama dengan peneliti dari Bar-Ilan University, Israel mengembangkan obat tetes mata yang diisi dengan nanopartikel untuk memperbaiki penglihatan pasien rabun dekat (mata plus) dan rabun jauh (mata minus).

"Ini adalah konsep baru untuk memperbaiki masalah rabun," kata Samdja dikutip dari Jerusalem Post, Kamis (22/02/2018).

Hingga kini tetes mata tersebut belum diuji coba pada manusia. Tapi, percobaan klinis terhadap hewan laboratorium memastikan obat tersebut bekerja dengan baik.

Percobaan pada 10 ekor babi menunjukkan bahwa tetes mata tersebut bisa memperbaiki masalah penglihatan ringan.

Sayangnya, detail lebih lanjut tentang seberapa sering pasien harus menggunakan obat tetes mata ini belum diketahui. Ditambah lagi, mereka juga belum memahami efek samping obat tersebut.

Temuan dari Israel ini tentu memicu banyak komentar. Salah satunya datang dari Robert Honkanen, seorang dokter mata dari SUNY Stony Brook Medical School and Hospital, AS.

Baca juga: Kebiasaan Menatap Layar Komputer Sebabkan Mata Minus?

Honkanen mengatakan, kesehatan kornea jangka panjang dan khasiatnya harus ditentukan sebelum ini menjadi pengobatan yang layak. Ditambah, obat tetes mata tersebut saat ini baru terbukti memperbaiki rabun dekat dan rabun jauh pada hewan.

"Anda tidak pernah tahu dengan pengoptimalan mereka mungkin bisa memperluas jangkauan penglihatan mata," ujar Honkanen dikutip dari Newsweek, Selasa (06/03/2018).



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bisa Jadi Sarang Kuman, Inilah Benda-benda Paling Kotor di Rumah

Bisa Jadi Sarang Kuman, Inilah Benda-benda Paling Kotor di Rumah

Oh Begitu
Penyebab dan Cara Mengatasi Biang Keringat

Penyebab dan Cara Mengatasi Biang Keringat

Kita
Ahli Ungkap Islandia Bagian Benua yang Tenggelam 10 Juta Tahun Lalu

Ahli Ungkap Islandia Bagian Benua yang Tenggelam 10 Juta Tahun Lalu

Oh Begitu
Banyak Lansia di Indonesia, Tenaga Kesehatan Harus Paham Pentingnya Healthy Aging

Banyak Lansia di Indonesia, Tenaga Kesehatan Harus Paham Pentingnya Healthy Aging

Oh Begitu
Kamasutra Satwa: Kibaskan Ekornya ke Samping, Tanda Anjing Betina Siap Kawin

Kamasutra Satwa: Kibaskan Ekornya ke Samping, Tanda Anjing Betina Siap Kawin

Oh Begitu
Tanda Pasien Covid-19 Memburuk Saat Isoman Menurut Satgas Covid-19

Tanda Pasien Covid-19 Memburuk Saat Isoman Menurut Satgas Covid-19

Oh Begitu
Penemuan Obat Antivirus Ini Lahirkan Obat untuk Lawan Virus dari Herpes, HIV hingga Covid-19

Penemuan Obat Antivirus Ini Lahirkan Obat untuk Lawan Virus dari Herpes, HIV hingga Covid-19

Oh Begitu
Isu Doping Atlet Pesaing Windy Cantika Aisah, Apa Itu Doping dan Risikonya?

Isu Doping Atlet Pesaing Windy Cantika Aisah, Apa Itu Doping dan Risikonya?

Oh Begitu
Perjalanan Vaksin Nusantara, Kehebohan dan Pelajarannya

Perjalanan Vaksin Nusantara, Kehebohan dan Pelajarannya

Oh Begitu
6 Tips Minum Kopi Agar Lebih Menyehatkan Tubuh

6 Tips Minum Kopi Agar Lebih Menyehatkan Tubuh

Oh Begitu
Pantai Alaska Diguncang Gempa M 7,8 Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia

Pantai Alaska Diguncang Gempa M 7,8 Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia

Oh Begitu
Syarat Rumah yang Bisa Dipakai Isolasi Mandiri Menurut Dokter

Syarat Rumah yang Bisa Dipakai Isolasi Mandiri Menurut Dokter

Oh Begitu
Satu Dosis Vaksin AstraZeneca 82 Persen Efektif Lawan Varian Beta dan Gamma

Satu Dosis Vaksin AstraZeneca 82 Persen Efektif Lawan Varian Beta dan Gamma

Oh Begitu
Tingkat Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Capai 36 Persen, Ini Penyebabnya

Tingkat Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Capai 36 Persen, Ini Penyebabnya

Oh Begitu
Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Ini Faktanya

Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Ini Faktanya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X