Tanpa Perempuan Jenius Ini, Foto Lubang Hitam Mungkin Tak Pernah Ada

Kompas.com - 11/04/2019, 17:01 WIB
Katie Bouman, perempuan muda yang memimpin penyusunan algoritma untuk menampilkan foto lubang hitam pertama. Katie Bouman, perempuan muda yang memimpin penyusunan algoritma untuk menampilkan foto lubang hitam pertama.


KOMPAS.com - Terungkapnya foto pertama lubang hitam alias black hole diabadikan oleh delapan teleskop yang tersebar di bebera negara dan terhubung oleh Event Horizon Telescope (EHT). Namun, kita tidak mungkin dapat menyaksikan foto itu kalau tak ada si jenius Katie Bouman (29).

Bouman adalah perempuan muda yang memimpin pengembangan algoritma untuk menghasilkan gambaran lubang hitam.

Dalam sebuah video singkat saluran Ted yang diunggah pada 28 April 2017 ke Youtube, Bouman menegaskan dia bukanlah seorang astronom tetapi ia melakukan riset di laboratorium komputer untuk menerjemahkan gambar atau video.

Bersama dengan 200 ilmuwan dari seluruh dunia, tiga tahun lalu Bouman bergabung dan memimpin penyusunan algoritma yang bisa membantu merancang pencitraan lubang hitam supermasif di pusat galaksi M87.

Baca juga: Mengenal John Michell, Genius Penggagas Lubang Hitam yang Terlupakan


Kala itu dia masih terdaftar sebagai mahasiswa pascasarjana jurusan ilmu komputer di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Seperti kita tahu, lubang hitam terletak di lokasi sangat jauh dan padat, sehingga untuk mendapat fotonya adalah sesuatu yang mustahil.

Lubang hitam menurut teori yang beredar tidak terlihat. Lubang hitam hanya bisa mengeluarkan pendaran bayangan ketika mengisap materi di sekitarnya.

Merangkum CNN, Kamis (11/4/2019), EHT sudah mengumpulkan jutaan gigabyte data atau lebih dikenal sebagai interferometri. Meski begitu, data ini masih belum cukup untuk menggambarkan seperti apa wujud lubang hitam.

Untuk itulah Bouman hadir bersama algoritma yang membantu para ilmuwan merancang tiga varian kode skrip untuk akhirnya menjadi gambar utuh.

"Kami mengembangkan cara untuk menghasilkan data sintetis dan menggunakan berbagai algoritma. Kami menguji semuanya dengan cermat agar bisa menghasilkan gambar (lubang hitam)," ujar Bouman.

Seperti dikatakan Bouman, dia tidak hanya mengembangkan satu algoritma. Menurutnya, lebih banyak algoritma berbeda akan memberi asumsi berbeda pula.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X