Kompas.com - 22/03/2019, 17:35 WIB
Kiri-kanan: dr. Adhiatma Prakasa Gunawan sebagai pasien Ankylosing Spondylitis (AS); DR. dr. Rudi Hidayat, SpPD-KR, dokter spesialis penyakit dalam, konsultan reumatologi; Jorge Wagner, Presiden Direktur, Novartis Indonesia; dan drg. Rio Suwandi sebagai pasien Psoriatic Arthritis (PsA) berfoto bersama dalam konferensi pers Inovasi Pengobatan untuk Ankylosing Spondylitis dan Psoriatic Arthritis di Indonesia. Novartis IndonesiaKiri-kanan: dr. Adhiatma Prakasa Gunawan sebagai pasien Ankylosing Spondylitis (AS); DR. dr. Rudi Hidayat, SpPD-KR, dokter spesialis penyakit dalam, konsultan reumatologi; Jorge Wagner, Presiden Direktur, Novartis Indonesia; dan drg. Rio Suwandi sebagai pasien Psoriatic Arthritis (PsA) berfoto bersama dalam konferensi pers Inovasi Pengobatan untuk Ankylosing Spondylitis dan Psoriatic Arthritis di Indonesia.

Penyakit ini juga menyerang sendi, umumnya pada bagian dan kaki. Namun, tidak menutup kemungkinan penderita PsA juga mengalami nyeri pada punggung bagian bawah. Bila tidak ditangani, PsA bisa berkembang menjadi artritis mutilans yang dapat menyebabkan cacat permanen pada tulang-tulang kecil di tangan.

“(Keduanya) sama-sama berfaktor genetik. Genetik yang paling berperan itu HLA-B27. Individu yang punya gen ini menjadi lebih rentan terkena dan menderita AS dan PsA, tetapi tidak pasti akan terkena (penyakit AS dan PsA),” kata Rudy.

Dibutuhkan pemicu eksternal, misalnya gaya hidup tidak sehat, serta paparan rokok dan logam berat, untuk membuat individu yang memiliki HLA-B27 untuk menjadi sakit.

Agen biologik

Nah, penanganan kedua penyakit ini adalah lebih banyak bergerak, menghindari berat badan berlebih dan minum obat anti nyeri. Pasien dengan PsA juga bisa meminum Disease Modyfing Antirheumatic Drugs (DMARDs) yang mampu memperlambat berkembangnya psoriasis artritis dan menghindarkan kerusakan permanen pada persendian.

Namun bila DMARDs gagal, seperti pada kebanyakan kasus AS, agen biologik seperti Secukinumab dari Novartis bisa menjadi alternatif pengobatan. Obat ini baru mendapatkan persetujuan BPOM untuk digunakan mengobati AS dan PsA.

Rudy menjelaskan bahwa berbeda dengan obat anti nyeri, agen biologik bekerja dengan lebih spesifik. Sebagai contoh adalah agen biologik yang menghambat IL-17a, salah satu jenis sitokin yang menyebabkan radang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Kelebihan Berat Badan Perburuk Penyakit Psoriasis

 

“Jadi kalau obat anti nyeri itu kalau sudah radang baru dihambat, tetapi kalau anti biologik seperti anti IL-17a ini penyebab radangnya yang dihambat. Jadi IL-17a yang ditangkap sehingga ia tidak menyebabkan radang,” ujarnya.

Rudy melanjutkan, masalahnya kita enggak tahu kapan rangsangan terhadap IL-17a bisa berhenti, sehingga memang yang dianjurkan adalah penggunaan jangka panjang terhadap obat-obat ini.

Pada prakteknya, Secukinumab disuntikkan sebulan sekali sebagai pemeliharaan. Perlahan-lahan dosisnya dikurangi dengan memperlambat rentang waktu antara suntikan bila penyakit tidak kambuh.

Rio dan Adhi adalah dua pasien yang sudah mencoba menggunakan anti biologik untuk mengontrol rasa nyerinya. Walaupun tidak hilang, sebagian besar rasa nyeri itu diakui keduanya menjadi lebih terkontrol.

“80 persen (nyerinya) hilang. Kalau jalan-jalan dan ngobrol biasa tidak terasa nyeri. Kalau buru-buru jalan cepat, misalnya di bandara, baru terasa sakit sedikit dan bisa ditangani dengan makan obat painkiller,” kata Rio.

Tentunya, agen biologik yang hanya memberikan remisi ini tidak akan menjadi jawaban akhir dunia sains bagi para penderita AS dan PsA.

Jorge Wagner, President Director Novartis Indonesia, berkata bahwa dunia ilmiah selalu jauh dari solusi terakhir. Mereka pun tidak akan berhenti mencari cara untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.