Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Cerita 2 Pasien Atasi Nyeri Reumatik Autoimun dengan Agen Biologik

KOMPAS.com – Dokter Adhiatma Gunawan dan drg Rio Suwandi masih ingat bagaimana nyerinya ketika penyakit reumatik autoimun mereka menyerang. Diceritakan oleh mereka dalam konferensi pers oleh Novartis di Jakarta, Kamis (21/3/2019), rasanya sakit luar biasa.

Adhiatma yang akrab disapa Adhi didiagnosis memiliki Ankylosing Spondylitis (AS) pada 2012. Awalnya, dia hanya merasakan kaku dan nyeri di persendian tulang belakang bagian bawah, terutama pada pagi hari. Namun, perlahan-lahan rasa nyeri itu bertambah hingga pada 2017, nyerinya sudah tak tertahankan lagi.

“Sebenarnya dari 2012 hingga 2017 itu biasa-biasa saja. Enggak tahu pemicunya apa, tiba-tiba nyeri sekali sampai kalau naik tangga dan jalan kaki itu sakitnya luar biasa. Kalau (sakitnya) dibuat skala pribadi dari 1010, saya kasih 8 atau 9. Aktivitas jadi sangat terbatas karena rasa nyeri itu dan fungsionalnya terganggu,” ujarnya.

Sementara itu, Rio menderita Psoriatic Arthritis (PsA), radang sendi yang memengaruhi sebagian pasien psoriasis. Gejala yang paling kentara adalah bengkak di telunjuk tangan kanan, tetapi dia juga merasakan nyeri di sendi kaki setiap bangun tidur.

“Sakitnya itu kaya ditusuk-tusuk pakai jarum atau diiket kencang-kencang. Saya sampai enggak bisa jalan, ke toilet saja sampai harus minum painkiller (obat analgesik) dulu. Kalau diskala, saya sampai sembilan,” katanya.

Dia melanjutkan, saya selalu siap air minum dan painkiller. Kalau bangun tidur sudah mulai nyeri, langsung minum. Tunggu sampai mendingan, baru buru-buru jalan,” imbuhnya lagi.

Sama-sama reumatik autoium

Dr dr Rudy Hidayat, SpPD-KR, seorang dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan reumatologi, yang juga hadir di acara yang sama menjelaskan bahwa apa yang dialami Adhi dan Rio adalah dua penyakit autoimun yang termasuk di antara 150 jenis penyakit reumatik.

AS adalah penyakit autoimun yang menyebabkan radang di tulang belakang. Pasien dengan penyakit ini pada awalnya mengalami inflamasi pada ujung-ujung sendi yang bila tidak diatasi, akan tumbuh tulang baru sehingga tulang belakangnya tersambung menyerupai bambu dan tidak bisa ditekuk.

Sementara itu, PsA adalah artritis pada mereka yang sudah menderita psoriasis. Psoriasis sendiri merupakan penyakit autoimun yang menyerang kulit. Penyakit ini bisa bermanifestasi ke sendi dan menyebabkan PsA.

Penyakit ini juga menyerang sendi, umumnya pada bagian dan kaki. Namun, tidak menutup kemungkinan penderita PsA juga mengalami nyeri pada punggung bagian bawah. Bila tidak ditangani, PsA bisa berkembang menjadi artritis mutilans yang dapat menyebabkan cacat permanen pada tulang-tulang kecil di tangan.

“(Keduanya) sama-sama berfaktor genetik. Genetik yang paling berperan itu HLA-B27. Individu yang punya gen ini menjadi lebih rentan terkena dan menderita AS dan PsA, tetapi tidak pasti akan terkena (penyakit AS dan PsA),” kata Rudy.

Dibutuhkan pemicu eksternal, misalnya gaya hidup tidak sehat, serta paparan rokok dan logam berat, untuk membuat individu yang memiliki HLA-B27 untuk menjadi sakit.

Agen biologik

Nah, penanganan kedua penyakit ini adalah lebih banyak bergerak, menghindari berat badan berlebih dan minum obat anti nyeri. Pasien dengan PsA juga bisa meminum Disease Modyfing Antirheumatic Drugs (DMARDs) yang mampu memperlambat berkembangnya psoriasis artritis dan menghindarkan kerusakan permanen pada persendian.

Namun bila DMARDs gagal, seperti pada kebanyakan kasus AS, agen biologik seperti Secukinumab dari Novartis bisa menjadi alternatif pengobatan. Obat ini baru mendapatkan persetujuan BPOM untuk digunakan mengobati AS dan PsA.

Rudy menjelaskan bahwa berbeda dengan obat anti nyeri, agen biologik bekerja dengan lebih spesifik. Sebagai contoh adalah agen biologik yang menghambat IL-17a, salah satu jenis sitokin yang menyebabkan radang.

“Jadi kalau obat anti nyeri itu kalau sudah radang baru dihambat, tetapi kalau anti biologik seperti anti IL-17a ini penyebab radangnya yang dihambat. Jadi IL-17a yang ditangkap sehingga ia tidak menyebabkan radang,” ujarnya.

Rudy melanjutkan, masalahnya kita enggak tahu kapan rangsangan terhadap IL-17a bisa berhenti, sehingga memang yang dianjurkan adalah penggunaan jangka panjang terhadap obat-obat ini.

Pada prakteknya, Secukinumab disuntikkan sebulan sekali sebagai pemeliharaan. Perlahan-lahan dosisnya dikurangi dengan memperlambat rentang waktu antara suntikan bila penyakit tidak kambuh.

Rio dan Adhi adalah dua pasien yang sudah mencoba menggunakan anti biologik untuk mengontrol rasa nyerinya. Walaupun tidak hilang, sebagian besar rasa nyeri itu diakui keduanya menjadi lebih terkontrol.

“80 persen (nyerinya) hilang. Kalau jalan-jalan dan ngobrol biasa tidak terasa nyeri. Kalau buru-buru jalan cepat, misalnya di bandara, baru terasa sakit sedikit dan bisa ditangani dengan makan obat painkiller,” kata Rio.

Tentunya, agen biologik yang hanya memberikan remisi ini tidak akan menjadi jawaban akhir dunia sains bagi para penderita AS dan PsA.

Jorge Wagner, President Director Novartis Indonesia, berkata bahwa dunia ilmiah selalu jauh dari solusi terakhir. Mereka pun tidak akan berhenti mencari cara untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

https://sains.kompas.com/read/2019/03/22/173500523/cerita-2-pasien-atasi-nyeri-reumatik-autoimun-dengan-agen-biologik

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke