Kompas.com - 09/03/2019, 20:03 WIB
Gunung es di Antartika berwarna hijau zamrud. Gunung es di Antartika berwarna hijau zamrud.

KOMPAS.com - Tidak semua gunung es di Antartika berwarna kebiruan, beberapa ada yang berwarna hijau zamrud.  Fenomena aneh ini telah lama menjadi topik menarik di kalangan ilmuwan, dan akhirnya sekelompok tim peneliti percaya mereka mengetahui jawabannya.

Setelah dilakukan penelitian mendalam, tim menyimpulkan penyebabnya adalah oksidasi besi dalam debu dari daratan Antartika.

Kesimpulan itu terbit dalam laporan yang dimuat di jurnal Geophysical Research: Oceans yang dikelola American Geophysical Union.

Laporan gunung es hijau di wilayah tersebut sebenarnya sudah ada sejak awal 1900-an, pertama kali dilaporkan para pelaut.

Baca juga: Gunung Es Seluas 2,5 Kali DKI Jakarta Segera Pecah dari Antartika

Warna gunung es yang berbeda awalnya dianggap sebagai sesuatu yang tidak murni, tapi para ahli percaya gunung yang berbeda warna memiliki peran tertentu.

Memang benar, zat besi dalam gletser tersebut membantu memberi makan organisme laut saat mereka keluar dari habitatnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ini seperti membawa paket ke kantor pos," ujar Stephen Warren, ahli glasiologi dari Universitas Washington dan penulis utama studi.

"Gunung es dapat mengirim zat besinya ke lautan, kemudian melebur bersama fitoplankton yang bisa digunakan sebagai nutrisi (untuk organisme laut)," imbuhnya.

Melansir USA Today, Selasa (5/3/2019), Warren mempelajari gunung es hijau sejak 1980-an.

Dia menganalisis sampel beberapa gunung es hijau, termasuk gunung es Amery di Antartika Timur yang ternyata terbentuk dari air laut yang membeku di bawah es.

Warren dapat menunjukkan bahwaimana oksidasi besi melebur dengan es laut melalui sesuatu yang disebutnya "tepung glasial", bubuk yang terbentuk ketika gletser menggiling batuan dasar.

Jika tepung glasial terperangkap di bawah lapisan es, maka ia akan bercampur dengan es laut dan menciptakan warna hijau.

"Gunung es biasanya berwarna biru, karena es menyerap lebih banyak cahaya merah daripada cahaya biru," kata para peneliti, yang ingin menyelidiki lebih banyak gunung es hijau untuk mempelajari kandungan besi mereka.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Sisa Aliran Es Kuno Pesaing Antartika di Gurun Afrika



Sumber USA Today
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Luhut Sebut Herd Immunity Susah Terwujud, Epidemiolog: Ini Target Jangka Panjang

Luhut Sebut Herd Immunity Susah Terwujud, Epidemiolog: Ini Target Jangka Panjang

Kita
Ibu Terinfeksi Covid-19, Bolehkah Menyusui Bayinya? Ini Kata Dokter

Ibu Terinfeksi Covid-19, Bolehkah Menyusui Bayinya? Ini Kata Dokter

Kita
Agar Indonesia Cepat Keluar dari Pandemi, Ini yang Harus Dilakukan

Agar Indonesia Cepat Keluar dari Pandemi, Ini yang Harus Dilakukan

Kita
Sudah Disetujui Kemenkes, Ini Syarat Vaksin Covid-19 untuk Ibu Hamil

Sudah Disetujui Kemenkes, Ini Syarat Vaksin Covid-19 untuk Ibu Hamil

Kita
[POPULER SAINS] Kandungan Sodium di Mi Instan | Indonesia Masuki Puncak Covid-19

[POPULER SAINS] Kandungan Sodium di Mi Instan | Indonesia Masuki Puncak Covid-19

Oh Begitu
Orang yang Alami Reaksi Alergi pada Dosis Pertama Vaksin mRNA, Terbukti Mampu Menoleransi Dosis Kedua

Orang yang Alami Reaksi Alergi pada Dosis Pertama Vaksin mRNA, Terbukti Mampu Menoleransi Dosis Kedua

Oh Begitu
Mengenal Apa Itu mRNA pada Vaksin Pfizer dan Moderna

Mengenal Apa Itu mRNA pada Vaksin Pfizer dan Moderna

Oh Begitu
Bintang Unik Ini Meluncur Keluar dari Galaksi Bima Sakti

Bintang Unik Ini Meluncur Keluar dari Galaksi Bima Sakti

Fenomena
CDC Tunjukkan Kekuatan Vaksin Covid-19 Lindungi dari Infeksi Parah

CDC Tunjukkan Kekuatan Vaksin Covid-19 Lindungi dari Infeksi Parah

Oh Begitu
7 Cara Mencegah Hewan Terinfeksi Covid-19 Menurut KLHK

7 Cara Mencegah Hewan Terinfeksi Covid-19 Menurut KLHK

Oh Begitu
3 Vaksin Covid-19 untuk Vaksinasi Ibu Hamil, Jenis dan Efikasinya

3 Vaksin Covid-19 untuk Vaksinasi Ibu Hamil, Jenis dan Efikasinya

Oh Begitu
Bukan Cuma Faktor Umur, Ini Alasan Rambut Memutih dan Beruban

Bukan Cuma Faktor Umur, Ini Alasan Rambut Memutih dan Beruban

Kita
Kandungan Sodium dalam Mi Instan Sangat Tinggi, Kenali Risikonya

Kandungan Sodium dalam Mi Instan Sangat Tinggi, Kenali Risikonya

Oh Begitu
Ilmuwan Ungkap Gejala Brain Fog pada Long Covid Bisa Menurunkan IQ

Ilmuwan Ungkap Gejala Brain Fog pada Long Covid Bisa Menurunkan IQ

Oh Begitu
Luhut Sebut Kasus Covid-19 Turun 50 Persen, Epidemiolog: Indonesia Baru Masuki Titik Puncak Pandemi

Luhut Sebut Kasus Covid-19 Turun 50 Persen, Epidemiolog: Indonesia Baru Masuki Titik Puncak Pandemi

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X