Kompas.com - 26/02/2019, 14:26 WIB
Ilustrasi perempuan Tinatin1Ilustrasi perempuan

KOMPAS.com - Beberapa waktu belakangan internet dihebohkan dengan kabar seorang perempuan bernama Fela yang menjual keperawanannya di situs online Cinderella Escorts. Fela disebut-sebut mendapat penawaran tertinggi pada angka 19 miliar rupiah.

Di luar kasus Fela, keperawanan masih sering dianggap tabu untuk diperbincangkan. Meski begitu, ada setidaknya dua mitos tentang keperawanan yang telah dilanggengkan selama berabad-abad.

Kedua mitos tersebut pernah dibahas oleh Nina Dølvik Brochmann dan Ellen Støkken Dahl, penuli buku "The Wonder Down Under". Kedua perempuan tersebut juga merupakan dokter dan petugas kesehatan seksual.

Saat menjadi pembicara dalam acara TEDx di Oslo, Norwegia, Nina membuka dengan membahas mitos keperawanan yang telah dipercaya selama ini di dunia.

Baca juga: Cara Jalan Jadi Ciri Keperawanan, Dokter Sebut Itu Salah Kaprah

"Seperti kebanyakan Anda, kami tumbuh dengan kepercayaan bahwa selaput dara adalah bukti keperawanan," kata Nina memulai pembicaraannya.

"Tapi ternyata kami salah. Apa yang kami temukan adalah cerita populer tentang keperawanan perempuan didasarkan pada dua mitos anatomi," sambungnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Seperti yang disebutkan Nina, kedua mitos tersebut berkaitan dengan selaput dara.

Dua Mitos Keperawanan

Mitos pertama adalah tentang selaput dara yang pecah dan mengeluarkan darah ketika seorang perempuan pertama kali berhubungan seksual.

Mitos kedua adalah konsekuensi logis dari mitos pertama, yaitu karena selaput dara pecah maka ia menghilang atau berubah selama hubungan seksual pertama.

"Jika itu benar, seseorang akan dengan mudah menentukan apakah seorang perempuan perawan atau tidak dengan memeriksa alat kelamin, dengan melakukan pemeriksaan keperawanan," ujar Ellen.

Padahal, menurutnya, komunitas medis telah mengetahui hal tersebut tidak benar selama lebih dari 100 tahun.

Namun, entah bagaimana, mitos ini terus langgeng bahkan hingga kini.

"Mitos tentang selaput dara telah hidup selama berabad-abad karena memiliki signifikasi budaya. Mereka telah digunakan sebagai alat yang kuat dalam upaya untuk mengendalikan seksualitas perempuan dalam setiap budaya, agama, dan sejarah," kata Nina.

Dia berpendapat, perempuan masih tidak dipercaya, dipermalukan, dilukai, dan dalam kasus terburuk mengalami pembunuhan demi kehormatan jika tidak berdarah pada malam pernikahan.

Nina juga menyebutkan, di beberapa budaya, untuk mendapatkan pekerjaan, reputasi, dan pernikahan perempuan dipaksa melakukan tes keperawanan.

Baca juga: Selaput Dara Patokan Penanda Keperawanan?

"Contohnya di Indonesia, di mana perempuan secara sistematis diperiksa untuk bisa masuk militer," kata Ellen.

"Setelah pemberontakan Mesir tahun 2011, sekelompok pemrotes perempuan dipaksa melakukan tes keperawanan oleh militer," sambungnya.

Hal ini juga terjadi di Oslo. Dokter memeriksa selaput dara para gadis hanya untuk meyakinkan orang tua bahwa anak mereka tidak "rusak".

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Oh Begitu
Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Oh Begitu
Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Fenomena
Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Oh Begitu
Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Fenomena
5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

Kita
Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Fenomena
5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

Kita
Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Fenomena
Fakta-fakta Tikus Mondok Hidung Bintang, Pemangsa Tercepat di Dunia

Fakta-fakta Tikus Mondok Hidung Bintang, Pemangsa Tercepat di Dunia

Oh Begitu
12 Negara Laporkan Kasus Varian Omicron, dari Italia hingga Australia

12 Negara Laporkan Kasus Varian Omicron, dari Italia hingga Australia

Oh Begitu
Gunung Kilauea, Gunung Berapi Paling Aktif yang Meletus Setiap Tahun

Gunung Kilauea, Gunung Berapi Paling Aktif yang Meletus Setiap Tahun

Oh Begitu
Bukan Isap Serbuk Sari, Spesies Lebah Ini Berevolusi Makan Daging

Bukan Isap Serbuk Sari, Spesies Lebah Ini Berevolusi Makan Daging

Oh Begitu
Ameer Azzikra Meninggal Dunia karena Pneumonia, Begini Cara Mencegah Penyakit Ini

Ameer Azzikra Meninggal Dunia karena Pneumonia, Begini Cara Mencegah Penyakit Ini

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.