Jangan Salah, Sakit Kepala Bukan Ciri dari Hipertensi

Kompas.com - 23/02/2019, 19:06 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

KOMPAS.com – Banyak orang beranggapan bahwa sakit kepala, terutama setelah makan, adalah pertanda darah tinggi. Alhasil, tidak sedikit orang yang kemudian makan obat hipertensi ketika sakit kepala tiba-tiba.

Namun, perlu diketahui bahwa sakit kepala sebetulnya bukan ciri khas dari hipertensi.

Disampaikan oleh Prof Dr dr Suhardjono, SpPD-KGH, Kger selaku Pakar Hipertensi dan Guru Besar di Departemen Penyakit Dalam FKUI dalam konferensi pers 13th Scientific Meeting of Indonesian Society of Hypertension (InaSH) di Jakarta, Jumat (22/2/2019), sakit kepala memiliki ratusan penyebab, sehingga tidak bisa disebut sebagai ciri khas dari hipertensi.

Pernyataan itu disetujui oleh dr Adre Mayza, SpS(K) yang hadir dalam acara yang sama. Dia mengatakan, perlu dibedakan antara sakit kepala yang gejala hipertensi dengan sakit kepala yang gejala penyakit lain.

Baca juga: Sederet Cara Ini Bisa Bikin Anda Terhindar dari Hipertensi

Akan tetapi, hanya lima persen penderita hipertensi yang mengeluhkan sakit kepala. Hal ini, ujar dr Djoko Wibisono, SpPD-KGH yang merupakan Ketua Panitia acara, membuat banyak pasien hipertensi tidak meminum obatnya hanya karena sudah tidak sakit kepala lagi.

Untuk menegakkan diagnosis hipertensi, ada banyak syarat yang harus dipenuhi. Dokter pun tidak boleh cepat-cepat mengambil kesimpulan karena ada banyak penyebab yang bisa menaikkan tekanan darah.

Dokter Tunggul D Situmorang, SpPD-KGH, President of InaSH, berkata bahwa rasa tidak nyaman akibat sakit kepala bisa saja menaikkan tensi darah, sehingga tidak dapat diputuskan apakah sakit kepala yang menyebabkan hipertensi atau sebaliknya.

Pembunuh sunyi

Hipertensi atau gangguan pada sistem peredaran darah di mana tekanan darah melebihi batas nilai normal (140/90 mmHg) sering kali tidak bergejala. Ia biasanya baru ketahuan ketika melalui skrining. Namun, harus diingat bahwa hipertensi merupakan biang kerok berbagai penyakit lainnya.

Tekanan darah yang tinggi bisa menimbulkan komplikasi yang menyerang berbagai organ. Jika menyerang ginjal, ia bisa menyebabkan gagal ginjal. Bila pada jantung, terjadi penyakit jantung. Kalau menyerang syaraf, terjadi stroke. Bahkan, hipertensi bisa menyebabkan disfungsi seksual.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X