Kompas.com - 11/02/2019, 19:32 WIB

"Kejadian pemicu stres yang berulang pada malam hari bisa berdampak pada kesehatan jangka panjang seperti obesitas dan diabetes tipe dua, juga depresi," kata Yamanaka memperingatkan.

"Jika Anda bisa menghindari pemicu stres di malam hari, Anda sebaiknya melakukan pekerjaan-pekerjaan itu di pagi hari."

Temukan puncak kinerja di siang hari

Tingkat kortisol mungkin paling tinggi di pagi hari untuk membantu kita menangani stres di awal hari.

"Tidak semua orang lebih efektif saat pagi hari," kata Cristina Escribano Barreno, psikolog dari Complutense University of Madrid.

"Ungkapan seperti 'burung pagi yang menangkap cacing' mencerminkan bahwa kehidupan kerja kerap berorientasi pada pagi hari, jadi orang-orang yang suka pagi hari punya keuntungan."

Ada beberapa faktor yang menentukan apakah Anda tergolong 'manusia pagi' atau 'manusia siang', antara lain usia, jenis kelamin, faktor sosial dan lingkungan.

Tubuh menyiapkan kita untuk berbagai tekanan pada hari itu, sesaat setelah kita bangun - jadi ketika Anda memiliki keuntungan ini, sebaiknya Anda memanfaatkannya.

Walau begitu, untuk beberapa tugas, tubuh butuh penyesuaian kecepatan. Melakukan pekerjaan sederhana seperti hitung-menghitung di luar kepala berhubungan dengan suhu inti tubuh. Semakin tinggi suhunya, semakin baik performa kita.

Umumnya, tubuh kita berada di saat yang paling hangat di sore hari, jadi mungkin baik untuk menyelesaikan tugas-tugas mental hingga saat itu.

Ritme harian dikontrol oleh jam sirkadian (biologis), yang berarti bahwa pilihan untuk bangun pagi atau agak telat punya efek yang minim dalam pola ini.

"Orang-orang yang suka bangun pagi, puncak performa muncul lebih dulu dan bagi orang yang suka bangun siang itu akan muncul setelahnya," kata Konrad Jankowski, psikolog dari University of Warwaw, Polandia.

"Tetapi perbedaan waktu ini tidak signifikan, maksimum hanya beberapa jam."

Semakin tinggu suhu inti tubuh disebabkan oleh perubahan rutin yang normal yang meningkatkan aktivitas metabolisme di korteks serebral. Ini meningkatkan proses kognitif.

"Sejumlah riset menunjukan bahwa temperatur otak yang lebih tinggi terkait dengan transmisi sinaptik yang lebih cepat," kata Jankowski.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Harta Karun Emas Permata Ditemukan di Kapal Karam Berusia 366 Tahun

Harta Karun Emas Permata Ditemukan di Kapal Karam Berusia 366 Tahun

Fenomena
Cacar Monyet Belum Ada di Indonesia, Dokter: Bila Ada 1 Kasus Harus Dinyatakan Kejadian Luar Biasa

Cacar Monyet Belum Ada di Indonesia, Dokter: Bila Ada 1 Kasus Harus Dinyatakan Kejadian Luar Biasa

Kita
Apa Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan?

Apa Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan?

Oh Begitu
Astronom Cari Meteorit Antarbintang Menggunakan Magnet Besar, Untuk Apa?

Astronom Cari Meteorit Antarbintang Menggunakan Magnet Besar, Untuk Apa?

Fenomena
BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan, Berpotensi Sebabkan Cuaca Ekstrem di Wilayah Berikut

BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan, Berpotensi Sebabkan Cuaca Ekstrem di Wilayah Berikut

Fenomena
Badai Matahari Dilaporkan Hantam Medan Magnet Bumi, Apa Dampaknya?

Badai Matahari Dilaporkan Hantam Medan Magnet Bumi, Apa Dampaknya?

Fenomena
Memperkuat Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional, Ini Komitmen BMKG

Memperkuat Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional, Ini Komitmen BMKG

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Perseverance Mars NASA Bidik Puing Pendaratannya | Puncak Hujan Meteor Perseid | Video Viral Anak SD Rambutnya Dipotong Guru

[POPULER SAINS] Perseverance Mars NASA Bidik Puing Pendaratannya | Puncak Hujan Meteor Perseid | Video Viral Anak SD Rambutnya Dipotong Guru

Oh Begitu
Penyakit Cacar Monyet Bisa Sembuh Sendiri, Ini Pengobatan hingga Pencegahan Penularannya

Penyakit Cacar Monyet Bisa Sembuh Sendiri, Ini Pengobatan hingga Pencegahan Penularannya

Kita
Darah Berwarna Merah tapi Kenapa Pembuluh Darah Berwarna Biru? Ini Penjelasan Sains

Darah Berwarna Merah tapi Kenapa Pembuluh Darah Berwarna Biru? Ini Penjelasan Sains

Oh Begitu
Benarkah Cacar Monyet Termasuk Penyakit Infeksi Menular Seksual? Dokter Jelaskan

Benarkah Cacar Monyet Termasuk Penyakit Infeksi Menular Seksual? Dokter Jelaskan

Kita
Jumlah Perokok Anak Masih Banyak, Kemenkes Desak Revisi PP Tembakau

Jumlah Perokok Anak Masih Banyak, Kemenkes Desak Revisi PP Tembakau

Kita
Kenapa Kucing Selalu Tidur dan Tampak Malas? Ini Penyebabnya

Kenapa Kucing Selalu Tidur dan Tampak Malas? Ini Penyebabnya

Oh Begitu
Kemenkes Pastikan Subvarian Omicron BA.4.6 Belum Ada di Indonesia

Kemenkes Pastikan Subvarian Omicron BA.4.6 Belum Ada di Indonesia

Oh Begitu
Waspada Gelombang Sangat Tinggi 6 Meter di Selatan Jawa pada 10-11 Agustus

Waspada Gelombang Sangat Tinggi 6 Meter di Selatan Jawa pada 10-11 Agustus

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.