Studi: Gorengan Tingkatkan Risiko Kematian Dini

Kompas.com - 25/01/2019, 18:39 WIB
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com — Gorengan adalah salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Meski begitu, bukan rahasia lagi bahwa gorengan tidak baik untuk tubuh manusia.

Kini, sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal BMJ merinci bagaimana gorengan mempengaruhi kesehatan manusia.

"Orang-orang tahu makan gorengan mungkin memiliki hasil kesehatan yang merugikan, tetapi ada sedikit bukti ilmiah untuk menunjukkan apa dampak buruk jangka panjang dari makan gorengan," ungkap Dr Wei Bao, asisten profesor epidemiologi dari University of Iowa dikutip dari Time, Kamis (23/01/2019).

"Secara umum, kami menemukan bahwa konsumsi gorengan dikaitkan dengan kematian secara keseluruhan," imbuh co-author penelitian ini.

Baca juga: Kasus Titi Wati, Mungkinkah Jadi Obesitas karena Gorengan dan Air Es?

Hasil ini didapatkan para peneliti melalui studi longitudinal selama 20 tahun. Mereka mengamati 107.000 perempuan yang lebih tua dari usia 50 hingga 79 tahun.

Para peserta diminta mengisi sebuah kuesioner terperinci tentang kebiasaan pola makan pada 1990-an. Kesehatan mereka terus diamati oleh peneliti hingga tahun 2017.

Dalam rentang waktu 27 tahun, lebih dari 31.500 peserta meninggal dunia.

Dari pengamatan tersebut, para peneliti menyimpulkan orang yang melaporkan makan setidaknya satu porsi gorengan per hari memiliki risiko 8 persen lebih tinggi mengalami kematian dini.

Para penyuka gorengan itu juga memiliki risiko penyakit kardiovaskular 8 persen lebih tinggi.

Meski begitu, konsumsi gorengan tampaknya tidak sesuai dengan risiko kematian akibat kanker. Padahal, beberapa penelitian sebelumnya sering menghubungkan konsumsi gorengan dengan kanker.

"Kami tahu pola makan penting untuk pencegahan kanker atau penyintas kanker, tetapi tidak semua komponen makanan (tampaknya sama penting)," kata Bao.

Gorengan yang paling berkaitan dengan kematian dini dalam penelitian ini adalah ayam goreng dan ikan goreng dibanding makanan ringan seperti kentang goreng atau keripik.

Halaman:



Close Ads X