Kompas.com - 17/01/2019, 19:33 WIB
Foto hujan meteor Lyrnid dengan menggunakan teknik pemotretan long exposure, yang diambil di Thanlyn, 14 mil dari Yangon, Myanmar pada 23 April 2015. Foto hujan meteor Lyrnid dengan menggunakan teknik pemotretan long exposure, yang diambil di Thanlyn, 14 mil dari Yangon, Myanmar pada 23 April 2015.

"Ini adalah sesuatu yang belum pernah dikembangkan di Bumi, jadi kita harus memastikannya langsung di luar angkasa," kata insinyur ALE Adrien Lemal kepada BBC.

Sky Canvas dijadwalkan siap beroperasi tahun depan. Mereka memilih menghujani kota Hiroshima dengan meteor buatan sebagai peringatan 75 tahun setelah AS menjatuhkan dua bom atom di kota tersebut pada Perang Dunia II.

Apa kata ahli lain?

Menurut para ilmuwan lain, proyek ambisius Jepang ini mengkhawatirkan dan ditakutkan justru dapat menciptakan masalah yang signifikan ke depannya.

Hal ini mengingat lingkungan ruang angkasa di sekitar Bumi yang sebenarnya sudah cukup kumuh dipenuhi sampah dan berbagai sistem penelitian yang tidak lagi berfungsi.

Misalnya ada kesalahan pada satelit ALE, seperti salah menembakkan peluru logam meteor, dikhawatirkan akan terjadi benturan dengan peralatan satelit lain.

"Sebelum meletakkan benda di angkasa, kita harus memikirkan dengan hati-hati tentang apa yang dibawa dan misinya," ujar Moriba Jah dari program Ilmu Perilaku Benda Luar Angkasa Universitas Arizona kepada National Geographic.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, Jah juga menilai bahwa proyek ini akan menambah masalah polusi cahaya yang bisa mengganggu pengamatan astronomi di sana.

Baca juga: Empat Tahun Lagi, Bulan Bikinan China Bakal Mengorbit di Angkasa

Tren mengirim benda sembrono ke luar angkasa sepertinya sedang mendapat daya tarik dari sejumlah kalangan dan hal ini mengkhawatirkan.

Misalnya tahun lalu Selandia Baru secara diam-diam mengirim cermin yang berbentuk seperti bola disko mengorbit Bumi selama beberapa bulan.

Kemudian ada juga seniman yang mengirim benda mengkilap raksasa bernama Orbital Reflector ke angkasa pada Desember.

Selain itu China juga sempat mengumumkan ingin membuat bulan buatan dengan dalih agar bisa menghemat pendanaan lampu jalan. Lalu ada perusahaan Rusia yang melaporkan ingin memasang iklan di luar angkasa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.