Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 05/01/2019, 20:04 WIB

KOMPAS.com — Bacon dan kopi hitam untuk sarapan, atau havermut dan pisang?

Apabila Anda ingin mengurangi berat badan pada 2019, Anda akan menemukan perdebatan sengit di ranah online. Sepertinya setiap orang memiliki pendapatnya sendiri, dan ada mode baru yang muncul setiap tahun.

Dua hasil studi utama tahun lalu membuat perdebatan lebih sengit di antara topik yang memiliki pendukungnya masing-masing—peran yang dimainkan karbohidrat yang membuat kita gemuk.

Hasil studi menunjukkan beberapa petunjuk kepada para ilmuwan, namun, seperti juga studi tentang nutrisi lainnya, mereka tidak dapat mengatakan model diet—bila memang ada—yang terbaik bagi semua orang.

Baca juga: Resolusi Sehat 2019? Ahli Sarankan Diet Teknologi

Jawaban ini tidak akan memuaskan orang yang ingin jawaban hitam dan putih, namun penelitian di bidang nutrisi sangat sulit dan bahkan studi yang paling disegani pun disertai dengan peringatan serius.

Ada begitu banyak perbedaan untuk masing-masing orang sehingga hampir tidak mungkin untuk melakukan studi yang menunjukkan apa yang dapat berhasil untuk jangka panjang.

Sebelum ikut dalam program untuk menurunkan berat badan di tahun baru ini, berikut ini adalah pelajaran yang dapat diambil dari tahun lalu.

Konsumsi Lebih Rendah Karbohidrat Turunkan Berat Badan?

Sekarang tidak lagi disebut sebagai Atkins Diet, tetapi mereka yang percaya program diet dengan mengonsumsi rendah karbohidrat kembali mendapat harapan.

Pendapat bahwa kandungan karbohidrat refinasi dalam makanan, seperti roti putih, dengan cepat dapat diubah menjadi gula dalam tubuh kita, yang membuat tingkat energi dan rasa lapar naik dan turun dengan cepat.

Dengan mengurangi karbohidrat, klaim bahwa untuk mengurangi berat badan akan lebih mudah karena tubuh kita akan membakar lemak untuk energi sehingga kita jarang merasa lapar.

Studi baru-baru ini tampaknya mengamini pendapat mereka yang mendukung konsumsi rendah karbohidrat. Namun, seperti juga banyak studi, studi itu mencoba untuk memahami hanya satu aspek dari cara tubuh berfungsi.

Studi yang dilaksanakan bersama dengan seorang penulis yang mendorong pola diet dengan rendah karbohidrat, mencoba untuk mengkaji apakah diet dengan tingkat kandungan karbohidrat yang bervariasi dapat mempengaruhi bagaimana tubuh menggunakan energi.

Di antara 164 peserta, studi ini menemukan bahwa mereka yang mengikuti pola diet rendah karbohidrat membakar lebih banyak kalori secara keseluruhan dibandingkan mereka yang mengikuti diet dengan pola konsumsi tinggi karbohidrat.

Studi itu tidak menyimpulkan bahwa orang dengan pola diet rendah karbohidrat mampu menurunkan lebih banyak berat badan, dan tidak mencoba untuk mengukurnya.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+