Penemuan yang Mengubah Dunia: Buoy, dari Navigasi Jadi Deteksi Tsunami

Kompas.com - 27/12/2018, 21:52 WIB
Pekerja sedang mengangkut buoy, alat deteksi dini tsunami yang didonasikan oleh US National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA). AFP PHOTO/Bay ISMOYO / AFP PHOTO / BAY ISMOYO BAY ISMOYOPekerja sedang mengangkut buoy, alat deteksi dini tsunami yang didonasikan oleh US National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA). AFP PHOTO/Bay ISMOYO / AFP PHOTO / BAY ISMOYO

Perkembangan selanjutnya, tahun 1837, buoy ditambahi dengan kerucut kayu ganda.

Merunut perkembangannya, banyak negara mulai mengadopsi sistem buoy ini. Tapi baru pada 1850, sistem bout lateral diatur.

Sebelum pengaturan ini, banyak kapal yang menemukan "alat bantu" di lepas pantai tiap negara dan kesulitan karenanya.

Buoy modern yang saat ini kita kenal baru ditemukan pada tahun 1852 oleh Letnan Brown, seorang perwira militer yang bertugas di Lembaga Mecusuar. Desain awalnya sangat mirip buoy yang kita kenal hari ini.

Brown dengan kuat memasang lonceng di dalam bagian atas sangkar buoy. Lonceng ini nantinya sebagai penanda buoy bergerak sesuai dengan gelombang laut.

Baca juga: 4 Fakta tentang Alat Deteksi Tsunami Buoy di Indonesia

Meski memiliki lonceng, jangan bayangkan gelombang kecil bisa membunyikannya. Lonceng ini memiliki berat 136 kg, sehingga hanya gelombang besar yang bisa membuatnya berbunyi.

Lama kelamaan, sinyal suara lonceng ini dianggap kurang efektif. Selanjutnya, sinyal suara buoy diganti dengan peluit pada 1876 oleh John Courtenay.

Seiring perkembangan teknologi, buoy kemudian menggunakan bel ganda yang disebut gong buoy pada 1921. Jenis buoy disebut gong karena bunyinya yang berdentang.

Pada 1920-an, Lembaga Mercusuar bereksperimen membuat buoy tenaga baterai. Dengan kata lain, sinyal suara yang keluar bertenaga baterai elektronik.

Sayangnya, teknologi ini dianggap gagal karena baterai riskan terhadap air laut.

Tahun 1950-an, baterai perlahan-lahan diganti dengan asetilena. Selanjutnya pada 1960-an, juga diganti dengan baterai primer yang bisa bertahan hingga 3 tahun.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, baterai primer mulai digantikan dengan panel surya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X