Penemuan yang Mengubah Dunia: Buoy, dari Navigasi Jadi Deteksi Tsunami

Kompas.com - 27/12/2018, 21:52 WIB
Pekerja sedang mengangkut buoy, alat deteksi dini tsunami yang didonasikan oleh US National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA). AFP PHOTO/Bay ISMOYO / AFP PHOTO / BAY ISMOYO BAY ISMOYOPekerja sedang mengangkut buoy, alat deteksi dini tsunami yang didonasikan oleh US National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA). AFP PHOTO/Bay ISMOYO / AFP PHOTO / BAY ISMOYO

KOMPAS.com - Dua kali tsunami yang terjadi di Indonesia menunjukkan sebuah fenomena miris tentang kurang siapnya sistem peringatan dini. Alat yang selalu menjadi kambing hitam adalam buoy.

Dalam dua tsunami di Indonesia, masalah yang tampil adalah sistem peringatan dini tidak berfungsi karena buoy yang dipasang rusak atau hilang.

Padahal, seperti yang telah banyak diulas oleh para ahli, keberadaan buoy sangat penting sengai salah satu perangkat peringatan dini.

Terlepas dari kontroversinya, tahukah Anda bahwa buoy sudah ada sejak ratusan tahun silam?

Baca juga: Tanpa Buoy, Seberapa Akurat Sistem Peringatan Dini Tsunami Kita?

Obyek semacam buoy telah digunakan oleh para pelaut kuno untuk menandai air di pelabuhan zaman pra-Romawi. Sayangnya, tidak ada catatan yang jelas mengenai hal ini.

Istilah buoy sendiri mulai dikenal sebagai alat bantu navigasi pelaut abad pertengahan. Mereka menyebutnya sebagai La Compasso da Navigare sekitar tahun 1295.

Alat tersebut memberikan arahan untuk berlayar di wilayah Mediterania, khususnya daerah Semenanjung Iberia.

Buoy paling awal ini dirakit menggunakan kayu solid dengan tali, kemudian dirantai pada batu-baru berat.

Dalam catatan peninggalan tahun 1358, buoy beronga disebut dengan Tonnen. Benda ini diletakkan di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Rotterdam, Belanda.

Sekitar tahun 1460, di Jerman mulai dirancang khusus wadah atau bak sebagai buoy. Sebelumnya, buoy dibuat dengan memanfaatkan tong-tong bekas.

Perkembangan selanjutnya, tahun 1837, buoy ditambahi dengan kerucut kayu ganda.

Merunut perkembangannya, banyak negara mulai mengadopsi sistem buoy ini. Tapi baru pada 1850, sistem bout lateral diatur.

Sebelum pengaturan ini, banyak kapal yang menemukan "alat bantu" di lepas pantai tiap negara dan kesulitan karenanya.

Buoy modern yang saat ini kita kenal baru ditemukan pada tahun 1852 oleh Letnan Brown, seorang perwira militer yang bertugas di Lembaga Mecusuar. Desain awalnya sangat mirip buoy yang kita kenal hari ini.

Brown dengan kuat memasang lonceng di dalam bagian atas sangkar buoy. Lonceng ini nantinya sebagai penanda buoy bergerak sesuai dengan gelombang laut.

Baca juga: 4 Fakta tentang Alat Deteksi Tsunami Buoy di Indonesia

Meski memiliki lonceng, jangan bayangkan gelombang kecil bisa membunyikannya. Lonceng ini memiliki berat 136 kg, sehingga hanya gelombang besar yang bisa membuatnya berbunyi.

Lama kelamaan, sinyal suara lonceng ini dianggap kurang efektif. Selanjutnya, sinyal suara buoy diganti dengan peluit pada 1876 oleh John Courtenay.

Seiring perkembangan teknologi, buoy kemudian menggunakan bel ganda yang disebut gong buoy pada 1921. Jenis buoy disebut gong karena bunyinya yang berdentang.

Pada 1920-an, Lembaga Mercusuar bereksperimen membuat buoy tenaga baterai. Dengan kata lain, sinyal suara yang keluar bertenaga baterai elektronik.

Sayangnya, teknologi ini dianggap gagal karena baterai riskan terhadap air laut.

Tahun 1950-an, baterai perlahan-lahan diganti dengan asetilena. Selanjutnya pada 1960-an, juga diganti dengan baterai primer yang bisa bertahan hingga 3 tahun.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, baterai primer mulai digantikan dengan panel surya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Fenomena
Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kita
BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

Kita
BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Fenomena
Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Oh Begitu
Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Oh Begitu
Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Fenomena
BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Oh Begitu
Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Fenomena
Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Fenomena
Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Oh Begitu
Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X