Bak Fiksi Ilmiah, Katedral Bawah Tanah Ini Lindungi Tokyo dari Banjir

Kompas.com - 20/12/2018, 19:33 WIB

KOMPAS.com - Sebuah sistem bendungan, saluran air dan terowongan menjadi pelindung ibu kota Jepang. Akankah sistem ini bisa menanggulangi dampak perubahan iklim?

Cecilia Tortajada ingat saat dia menuruni tangga yang panjang menuju salah satu kecanggihan teknik di Jepang, sebuah tangki air raksasa yang merupakan pertahanan utama Tokyo melawan banjir.

Saat mencapai dasar tangki tersebut, dia berada di antara belasan pilar seberat 500 ton yang menahan langit-langit. Di rongga saluran air yang seperti kuil itu, dia merasa begitu kecil.

"Anda menjadi bagian kecil di sistem yang sangat besar ini," kata Tortajada, seorang pakar manajemen air di Institute of Water Policy di Lee Kuan Yew School of Public Policy di Singapura.

"Anda tersadar betapa siapnya Tokyo".

Baca juga: Banjir di Jepang Bikin Kuda Poni Ini Berenang Hingga ke Atap Rumah

Jika Jepang adalah tujuan utama untuk studi pengelolaan bencana dan risiko, maka tempat ini adalah salah satu tujuan pentingnya.

Katedral banjir ini tersembunyi 22 meter di bawah tanah sebagai bagian dari Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel (MAOUDC), sistem terowongan sepanjang 6,3km dan ruang-ruang silindris yang melindungi Tokyo Utara dari banjir.

Dalam beberapa dekade terakhir, ibu kota Jepang itu telah menyempurnakan cara mereka menghadapi hujan topan dan sungai yang bisa bergejolak; sistem perlindungan banjirnya yang rumit adalah sebuah keajaiban dunia.

Tapi masa depan, dengan perubahan iklim dan perubahan pola hujan, menjadi sulit ditebak.

Upaya Tokyo melawan banjir sudah dilakukan sejak lama. Kota ini terletak di perlintasan lima aliran sungai dan belasan sungai-sungai kecil yang permukaannya naik setiap musim.

Urbanisasi yang intens, industrialisasi dalam skala cepat dan pengambilan air yang tak hati-hati menyebabkan ada area-area yang amblas dan membuat kota ini semakin rapuh.

"Saya tidak tahu siapa yang meletakkan Tokyo di situ," kata Tortajada, yang sudah bekerja di manajemen pengairan selama lebih dari dua puluh tahun, setengah bercanda.

Meski Jepang telah berabad-abad berhadapan dengan banjir, sistem yang dimiliki Tokyo sekarang baru terbentuk setelah perang.

Taifun Kathleen menyerang pada 1947, menghancurkan sekitar 31.000 rumah dan menewaskan 1.100 orang; satu dekade kemudian, Taifun Kanogawa (atau yang dikenal dengan Ida) menghancurkan kota itu dengan 400mm hujan dalam seminggu. Jalanan, rumah dan toko serta kantor terendam.

Baca juga: Medali Emas Olimpiade Tokyo 2020 Terbuat dari Limbah Elektronik

Setelah kehancuran dan kekacauan itu, pemerintah Jepang pun meningkatkan komitmen keuangan mereka.

"Bahkan pada 1950 dan 1960-an, saat Jepang tengah berusaha bangkit dari perang, pemerintah telah menginvestasikan sekitar 6-7 persen dari anggaran nasional untuk bencana dan pengurangan risiko," kata Miki Inaoka, pakar bencana di Japan International Cooperation Agency (JICA).

Perencana kota di Tokyo harus mempertimbangkan berbagai sumber banjir.

Jika hujan deras terjadi di hulu, maka sungai akan bertambah deras dan merendam kawasan perkotaan di hilir. Atau jika hujan terjadi di kota, maka sistem pembuangan air akan kesulitan menanganinya, atau mungkin ada tsunami yang mengancam kawasan pesisir.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Saja Manfaat Bermain Puzzle untuk Anak?

Apa Saja Manfaat Bermain Puzzle untuk Anak?

Oh Begitu
Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Oh Begitu
Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Oh Begitu
4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

Oh Begitu
Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Oh Begitu
Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Oh Begitu
Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fenomena
Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Oh Begitu
Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Fenomena
6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

Fenomena
Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Fenomena
98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

Fenomena
[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

Oh Begitu
BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

Oh Begitu
WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.