Penemuan yang Mengubah Dunia: Viagra, Obat Jantung Penawar Disfungsi Ereksi - Kompas.com

Penemuan yang Mengubah Dunia: Viagra, Obat Jantung Penawar Disfungsi Ereksi

Kompas.com - 06/12/2018, 21:56 WIB
Ilustrasi obat sildenafil atau viagra.thinkstockphotos Ilustrasi obat sildenafil atau viagra.

KOMPAS.com - Salah satu penemuan yang mengubah dunia yang mungkin tidak banyak orang sadari adalah viagra.

Pil berwarna biru ini mungkin tidak terlalu penting bagi pria dewasa yang sehat. Namun, bagi pria dengan masalah disfungsi ereksi akibat usia atau sebagainya, obat ini sangat membantu.

Dalam banyak kebudayaan, masalah disfungsi ereksi sebenarnya telah mengganggu. Ini terbukti dari banyaknya pengobatan tradisional yang ditujukan untuk mengatasi masalah seksual tersebut.

Mulai dari obat seperti bubuk tanduk badak hingga mantra mencoba mengatasi masalah tersebut. Sayangnya, pengobatan-pengobatan ini tak selalu sukses.

Viagra kemudian hadir dan mengatasi masalah para pria tersebut. Bahkan, kini pil kecil itu menempati 45 persen dari pangsa pasar disfungsi seksual.

Baca juga: Benarkah Disfungsi Ereksi Ada Kaitannya dengan Andropause?

Namun, tahukah Anda, viagra sebenarnya dibuat bukan untuk tujuan ini?

Mulanya, ilmuwan perusahaan obat Pfizer di Inggris, Peter Dunn dan Albert Wood berniat membuat obat untuk menurunkan darah tinggi dan angina atau nyeri dada yang berhubungan dengan jantung koroner.

Saat itu, tahun 1989, mereka menciptakan sildenafil citrate, nama farmasi viagra.

Dalam uji klinis, obat ini dinyatakan gagal. Pasalnya, bukan menurunkan tekanan darah, obat ini justru meningkatkan aliran darah ke organ seksual.

Dengan kata lain, obat ini malah lebih efektif untuk menginduksi ereksi.

Meski gagal sebagai obat jantung, Pfizer malah memanfaatkannya sebagai peluang baru. Perusahaan ini melihat peluang dari banyaknya pasien disfungsi ereksi.

Tujuh tahun kemudian, tepatnya 1996, Pfizer mematenkan sildenafil sitrat di AS.

Tapi jauh sebelum itu, obat ini telah dipatenkan di Inggris pada 1991 oleh Dr Nicholas Terett. Terett mematenkannya sebagai obat jantung.

Banyak yang menganggap Terett adalah bapak viagra.

Meski begitu, kepopuleran viagra adalah kerja dari perusahaan Pfizer. Dua tahun setelah dipatenkan oleh perusahaan obat tersebut, viagra mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) sebagai obat disfungsi ereksi.

Hanya dalam hitungan minggu sejak persetujuan didapatkan, para apoteker AS telah meresepkan lebih dari 40.000 viagra.

Ini menarik majalah TIME untuk membuat headline dengan judul "The Potency Pill".

Baca juga: Pria Bisa Berhubungan Seks saat Disfungsi Ereksi, tapi Ada Efeknya

Kepopuleran viagra di AS dan wilayah benua Amerika lainnya menimbulkan penjualan di pasar gelap negara lain. Sejak saat itu, persetujuan viagra di negara-negara lain meningkat.

Kesuksesan viagra bukannya tanpa cela. Sebuah penelitian pada tahun 2000 oleh Dr Sanjay Kaul menunjukkan adanya 522 pasien yang meninggal akibat konsumsi viagra.

Tahun-tahun berikutnya, penelitian tentang obat disfungsi ereksi mulai berkembang. Beberapa jenis obat disahkan oleh FDA sebagai penawar masalah seksual.



Close Ads X