Michelle Obama Sebut Punya Sindrom Imposter, Apa Itu?

Kompas.com - 06/12/2018, 08:10 WIB
Mantan Ibu Negara AS, Michelle Obama.AFP / DREW ANGERER / GETTY IMAGES NORTH AMERICA Mantan Ibu Negara AS, Michelle Obama.

KOMPAS.com - Dalam pertemuan di London Senin malam (3/12/2018), Michelle Obama mengaku masih suka gugup dan dilanda tidak percaya diri.

"Saya memiliki imposter syndrome atau rasa tidak percaya diri, dan itu tidak pernah hilang," kata mantan ibu negara AS itu dalam acara terkait rangkaian tur promosi bukunya yanng berjudul Becoming di Southbank Centre, London.

"Itu tidak hilang, perasaan bahwa saya sebetulnya tidak dianggap. Apa yang saya kuasai? Saya katakan sekarang, kita semua memiliki keraguan akan kemampuan kita, tentang kekuatan kita, dan apa kekuatan itu," sambungnya.

"Jika saya memberi harapan kepada orang-orang, maka itu adalah sebuah tanggung jawab, jadi saya harus memastikan bahwa saya bertanggung jawab."

"Kita tidak punya pilihan lain selain memastikan bahwa kita sebagai orang yang lebih tua memberikan alasan bagi generasi muda untuk berharap."

Baca juga: Apa Itu Sindrom Lemierre, Penyakit yang Bikin Atlet AS Meninggal?

Sindrom imposter adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan tidak nyaman atau meragukan kemampuan diri, meski keraguan itu tak mendasar.

Melansir Newsweek, Selasa (4/12/2018), istilah ini pertama kali muncul dalam sebuah makalah tahun 1978 yang ditulis psikolog Pauline Rose Clare dan Suzanne Imes.

Makalah itu mengatakan kesuksesan atau pencapaian perempuan hanya dianggap sebagai sebuah keberuntungan.

"Meski memiliki prestasi akademik dan karier yang luar biasa, perempuan dengan sindrom imposter berpikir sebaliknya dan tidak percaya pada dirinya sendiri," tulis makalah tersebut.

Penelitian selanjutnya menunjukkan sindrom imposter tidak hanya dialami perempuan, tapi dapat memengaruhi semua lapisan masyarakat.

Menurut laporan yang terbit di jurnal Internasional Behavioral Science edisi 2001, sekitar 70 persen manusia sangat mungkin mengalami sindrom ini.

"Meski ada bukti sebaliknya, jutaan orang yang sangat cerdas dan cakap ternyata mengalami kesulitan menerima kesuksesan mereka, dan merasa tak pantas menerimanya. Sebab itu, mereka menghubungkan pencapaian mereka dengan keberuntungan, waktu, dan kepribadian," ujar ahli sindrom imposter Valerie Young.

"Orang yang mengalami sindrom imposter khawatir orang lain suatu saat akan menemukan mereka sebenarnya tidak pandai atau tidak bertalenta, kebalikan dari yang dipikirkan orang lain tentang mereka," imbuh dia.

Halaman:



Close Ads X