Kompas.com - 03/12/2018, 13:04 WIB

Penemu berusia 39 tahun yang sebelumnya pernah berkolaborasi dengan pusat pengembangan teknologi bernama Woelab - salah satu yang terbaik di sana - baru-baru ini membuka laboratorium kecilnya sendiri di samping rumahnya.

Baca juga: Bakteri Ini Ubah Limbah Elektronik Jadi Tambang Emas Murni

Tambang Emas

"Pada awalnya, sampah elektronik adalah bencana - itu cara kami menggambarkannya dulu," ujar Afate dengan suara lembutnya.

"Jalanan kami diseraki perangkat komputer bekas yang lalu rusak. Tapi kini masalah itu justru berubah menjadi sebuah peluang. Sampah elektronik kami anggap seperti tambang emas," sambungnya.

Hanya 41 negara di dunia - kebanyakan di Eropa - yang melakukan pendataan terhadap sampah elektronik, menurut laporan The Global E-waste Monitor.

Menurut laporan tersebut, pada 2016, orang-orang di seluruh dunia membuang 44 juta ton sampah elektronik.

Telepon genggam bekas, laptop, TV, dan generator listrik memenuhi mobil van dan truk yang keluar dari pelabuhan Lomé.

Mereka menggelar lapak di pasar di dekat pelabuhan di mana para pembeli berkumpul.

Meningkatnya kebutuhan akan teknologi telah menciptakan pasar, di mana orang-orang yang ingin membeli barang elektronik bekas saling tawar-menawar.

Bukan hanya permintaan atas barang elektronik bekas yang menarik minat para pembeli, melainkan juga ketidak-sanggupan negara-negara kaya untuk mendaur ulang.

Organisasi seperti Basel Action Network khawatir bahwa negara-negara barat sebenarnya hanya tidak becus menangani sampah elektronik mereka.

Lebih jauh, mungkin mereka sengaja membiarkannya berakhir di kapal-kapal kargo yang akan membawa itu semua ke Afrika Barat dan negara-negara lainnya.

Baca juga: Peneliti Australia: Kulit Mangga Bisa Urai Limbah Minyak

"Negara-negara lain tak tahu apa yang harus diperbuat dengan sampah elektronik yang mereka hasilkan, dan Afrika memiliki lingkungan terbaik untuk menjadi lokasi pembuangan," ujar aktivis Youth for the Environment Togo, Sena Alouka.

"Kami memiliki kerangka regulasi yang lemah, institusi yang lemah, juga korupsi, yang turut menyumbang terhadap arus perpindahan sampah elektronik ini. Kami perlu meniru Thailand yang mengancam akan mengerahkan pasukan militernya demi melarang impor sampah elektronik," tegasnya.

Ekspor barang bekas ke negara lain sebenarnya tidak menyalahi hukum internasional. Masalah kemudian muncul jika barang-barang tersebut ternyata sudah tidak bisa digunakan, seperti yang tertulis dalam beberapa perjanjian, di antaranya konvensi Basel dan Bamako.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.