Kompas.com - 03/12/2018, 13:04 WIB

Konvensi Bamako, yang diberlakukan tahun 1998, mewajibkan negara-negara Afrika untuk melarang kegiatan impor sampah berbahaya, termasuk zat-zat radioaktif.

Perjanjian tersebut juga mendorong negara-negara Afrika mengesahkan undang-undang untuk mengontrol impor barang-barang cacat atau hampir kadaluwarsa dengan menjadikannya sebagai sampah berbahaya.

"Bayangkan satu set televisi - itu semua mengandung kadmium, timah, dan berilium: semuanya mengandung racun dan sangat berbahaya bagi manusia dan lingkungan," ujar Alouka.

"Bisa saja zat-zat tersebut mencemari air yang mengalir ke lautan. Sementara kita makan ikan. Zat-zat tadi mengandung merkuri dan banyak lainnya. Itu sangat berbahaya bagi kesehatan kita, terutama bagi anak-anak kita," tambahnya.

Meski demikian, kini, upaya untuk mengatur sampah elektronik justru menjadi tantangan. Apalagi saat ini banyak hidup warga yang bergantung padanya.

Baca juga: Korban Rokok Elektronik Meledak Semakin Banyak

"Jika Anda perhatikan ragam sampah yang masuk ke sini, banyak di antaranya sangat berbahaya dan beracun, sehingga kita harus mengevaluasi dengan cermat dampak ekonomi yang bisa ditimbulkannya terhadap lingkungan kita," tukas pengusaha daur ulang Hervé Tchamsi dari E-Waste Centre.

Tchamsi mengatakan, timnya mencoba untuk meminimalisir paparan zat-zat berbahaya sampah elektronik terhadap mereka.

Dia berharap cara yang dilakukannya bisa diberlakukan juga di seluruh Togo.

Kembali ke Eropa

Untuk saat ini, benda-benda yang tak bisa didaur ulang, mereka kembalikan ke Eropa, tempat dari mana sampah-sampah elektronik ini berasal.

"Itu televisi-televisi yang mengandung zat-zat berbahaya. Kami harus merogoh kocek untuk mengirimkannya kembali ke Belgia untuk didaur ulang - karena di sini kami tidak mampu mendaur ulang itu semua dengan aman," jelasnya.

Di negara dengan lapangan kerja yang terbatas bagi anak mudanya, industri ini menawarkan potensi lapangan kerja yang luar biasa.

Para penemu dan pengusaha mencoba mencari solusi tepat, yang dapat memaksimalkan potensi tersebut sekaligus memitigasi bahaya yang ditimbulkan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.