Kompas.com - 08/11/2018, 18:44 WIB

KOMPAS.com - Tim arkeolog menemukan lukisan gua tertua belum lama ini. Berlokasi di sebuah gua yang ada di hutan Kalimantan, gambar yang menyerupai banteng itu diprediksi berusia 40.000 sampai 50.000 tahun, atau berasal dari zaman Palaeolithic Atas hingga zaman es akhir.

Karya seni figuratif ini 5.000 tahun lebih tua dari pemegang rekor sebelumnya, yakni lukisan gua yang berasal dari Sulawesi, Indonesia.

Dalam dunia arkeologi, gua-gua yang berada di dalam hutan Kalimantan Timur terkenal memiliki banyak lukisan kuno. Namun, usianya diperkirakan relatif muda, hanya sekitar 10.000 tahun.

Namun, saat arkeolog dan geokimiawan Maxime Aubert dari Griffith University, Australia, melakukan penanggalan radiometrik terhadap salah satu gua di Kalimantan, ia menemukan bahwa usianya jauh lebih tua dari lukisan gua di Sulawesi.

Baca juga: Mengenal Kedekatan Sejarah Indonesia dan Timor Leste Lewat Lukisan Gua

Dalam memastikan jejak seni prasejarah itu, ia tidak hanya menguji lukisan ternak yang kemungkinan merupakan gambaran banteng. Aubert juga menguji segudang siluet tangan yang tersebar di seluruh gua.

"Lukisan gua tertua ini mirip seperti gambar binatang besar yang sulit diidentifikasi, mungkin ini adalah spesies sapi liar yang dulu berkeliaran di hutan Kalimantan. Kami memperkirakan usia minimumnya sekitar 40.000 tahun dan saat ini menjadi karya seni figuratif tertua yang diketahui," jelas Aubert yang juga menganalisis usia lukisan gua di Sulawesi dalam pernyataan resminya.

Seperti dilansir Science Alert, Rabu (7/11/2018), karya seni tertua bukan hanya lukisan gua. Ada juga karya seni pahat tertua, berupa patung Löwenmensch dari Jerman. Patung berkepala manusia dan tubuh manusia ini usianya sekitar 35.000 sampai 40.000 tahun.

Proses penanggalan lukisan gua

Bagaimana menganalisis usia lukisan gua? Jika Anda seberuntung Aubert dan timnya, Anda akan menemukan beberapa batuan yang usianya ribuan tahun tumbuh di sekitar lukisan gua.

Dalam hal ini, Aubert menemukan beberapa bagian gambar banteng tertutup lapisan kalsit.

Lapisan kalsit itu kemudian diuji dengan teknik yang disebut penanggalan uranium-thorium.

"Air hujan merembes melalui batu kapur dan melarutkan sejumlah kecil uranium. Uranium bersifat radioaktif dan seiring berjalannya waktu membusuk menjadi elemen lain, torium. Tingkat pembusukan diketahui dengan tepat," ujar Aubert kepada Science Alert.

"Kuncinya adalah uranium larut di air tapi torium tidak. Jadi ketika kalsit membentuk lapisan dari air hujan dan menutupi lukisan, awalnya itu mengandung uranium tetapi tidak ada torium. Jika kita mengambil sampel (dari) ribuan tahun kemudian dan mengukur rasio uranium versus torium, kita dapat menghitung usia lapisan," jelasnya.

siluet cap tangan manusia purba yang letaknya masih satu bidang dengan lukisan gua tertua di dunia. siluet cap tangan manusia purba yang letaknya masih satu bidang dengan lukisan gua tertua di dunia.

Dalam laporan yang terbit di jurnal Nature, Aubert mencatat cap tangan yang terbuat dari pigmen berwarna merah usianya setua lukisan banteng. Salah satu cap tangan usia maksimumnya 51.800 tahun, dan dua lainnya berusia minimal 37.200 tahun.

Cap tangan lain dengan pigmen warna murbei gelap usianya jauh lebih muda, sekitar 20.000 tahun sampai 21.000 tahun.

Aubert memprediksi, sekitar tahun itu manusia baru mengenal karya seni lain. Hal ini dibuktikan dengan gambaran tongkat manusia, perahu, dan bentuk geometris yang diwarnai dengan pigmen hitam.

Gambar lukisan manusia yang diprediksi usianya sekitar 20.000 tahun di gua Kalimantan.
Gambar lukisan manusia yang diprediksi usianya sekitar 20.000 tahun di gua Kalimantan.

Menurut para arkeolog, hal ini menunjukkan adanya pergeseran budaya sekitar 20.000 tahun lalu. Dari seni yang fokus pada lingkungan sekitar menjadi hal-hal yang berbau pengalaman manusia.

Meski tidak diketahui pasti mengapa manusia purba melukiskan hal tersebut, bagi para arkeolog perubahan gaya dan konten dalam lukisan gua sangat menarik.

"Mungkin ini mencerminkan kedatangan gelombang manusia lain atau evolusi dalam perkembangan seni yang bertepatan dengan permulaan Maksimum Glasiar Besar dan potensi peningkatan populasi di Kalimantan," ujarnya.

Catatan sejarah menuliskan, manusia purba telah mendiami pulau Borneo sekitar 70.000 sampai 60.000 tahun yang lalu. Namun anehnya, tak ada jejak seni gua pada era tersebut.

Baca juga: Lukisan Gua Tertua Ini Sama Canggihnya dengan Lukisan Modern

Membandingkan dengan lukisan gua Sulawesi, seni gua di Kalimantan Timur juga mewakili pergeseran dan bagaimana kita perlu berpikir tentang budaya dunia.

Sebelumnya Eropa dianggap sebagai tempat kelahiran dan pusat kreativitas manusia.

Namun para arkeolog melihat, seni di Kalimantan dan Sulawesi juga mencerminkan tentang pengalaman manusia yang tinggal di sana. Dari usia lukisan di Kalimantan dan Sulawesi, Aubert melihat ada pola migrasi.

"Karya seni lukisan gua berpotensi diekspor dari Kalimantan ke Sulawesi dan berpotensi lebih jauh ke Papua dan Australia," tutupnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kemenag Gelar Pemantauan Hilal Idul Adha di 86 Lokasi, Ini Daftarnya

Kemenag Gelar Pemantauan Hilal Idul Adha di 86 Lokasi, Ini Daftarnya

Fenomena
Kanker Payudara Menyebar Lebih Cepat Saat Malam Hari, Studi Jelaskan

Kanker Payudara Menyebar Lebih Cepat Saat Malam Hari, Studi Jelaskan

Oh Begitu
Vaksin Merah Putih Mulai Uji Klinis Fase 3, BPOM Libatkan 4.005 Sukarelawan

Vaksin Merah Putih Mulai Uji Klinis Fase 3, BPOM Libatkan 4.005 Sukarelawan

Oh Begitu
2 Bibit Siklon Tropis Tumbuh di Utara Indonesia, Waspada Dampaknya

2 Bibit Siklon Tropis Tumbuh di Utara Indonesia, Waspada Dampaknya

Fenomena
Sekitar 1,7 Juta Anak Indonesia Belum Imunisasi Dasar Lengkap, Apa Dampaknya?

Sekitar 1,7 Juta Anak Indonesia Belum Imunisasi Dasar Lengkap, Apa Dampaknya?

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro | Rompi Penurun Suhu | Manik Bipolar Marshanda

[POPULER SAINS] Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro | Rompi Penurun Suhu | Manik Bipolar Marshanda

Oh Begitu
Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Fenomena
Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Oh Begitu
Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Fenomena
Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Fenomena
Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.