Alasan di Balik Aturan Mematikan Ponsel Selama Penerbangan

Kompas.com - 31/10/2018, 21:32 WIB
Ilustrasi pesawat penumpang Kanada. THINKSTOCKPHOTOSIlustrasi pesawat penumpang Kanada.


KOMPAS.com - Mungkin semua orang tahu bahwa handphone dan gadget harus dimatikan atau diubah ke airplane mode.

Aturan tersebut pun sesuai dengan instruksi Direktur Keselamatan Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara, Kementeria Perhubungan melalui surat No. AU/4357/DKP.0975/2003 tentang larangan penggunaan ponsel di dalam pesawat udara, sebagai instruksi larangan lanjutan yang diterbitkan FAA (Badan Penerbangan Federal AS) sejak 1991.

Artinya, semua penerbangan di seluruh dunia menerapkan aturan tersebut, tanpa kecuali.

Kebanyakan orang mematuhi aturan tersebut, meski masih ada yang bandel dan tidak mematuhinya. Lantas, seberapa penting mematikan ponsel selama penerbangan?

Baca juga: 3 Hal Ini Bisa Selamatkan Nyawa Saat Terjadi Kecelakaan Pesawat

Pilot bernama Nikita Schmidt mengatakan, ponsel dapat mengganggu pilot dan pengendali lalu lintas udara.

"Anda mungkin pernah mendengar suara memekakkan dari sistem audio ketika diletakkan berdekatan dengan ponsel. Nah, emisi radio telepon bisa sangat kuat hingga 8W dan bisa menyebabkan kebisingan," katanya dilansir Forbes.

"dddtt.. ddtt.. ddtt.. Saya benar-benar mendengar suara seperti ini di radio ketika terbang. Ini bukan masalah keamanan kritis, tapi sangat mengganggu," ungkapnya,

Nikita menjelaskan, jika misalnya ada 50 orang yang tetap menyalakan gawai, maka akan ada lima puluh ponsel yang terus mencari menara seluler dengan daya maksimum. Hal ini kemudian akan mengakibatkan polusi radio di pesawat dan semakin mengganggu jalannya penerbangan.

"Dengan mengalihkan ponsel ke mode pesawat atau mematikannya, Anda telah membantu orang lain yang sedang melaksanakan pekerjaannya," tutupnya.

Baca juga: Seberapa Besar Peluang Kita Selamat dari Kecelakaan Pesawat?
 
Berkaitan dengan penggunaan ponsel di dalam pesawat, Telegraph melaporkan pada Januari 2018 ada dua insiden serius di mana ponsel memainkan peran.

Pertama, kecelakaan pesawat Crossair di Swiss tahun 2000 yang berlum terpecahkan. Saat itu terjadi transmisi palsu yang membingungkan pilot.

Kedua, kecelakaan fatal di Christchurch, Selandia Baru pada 2003. Kejadian ini termasuk yang paling ekstrem.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X