Dampak Bencana Alam pada Remaja Ancam Masa Depan Bangsa - Kompas.com

Dampak Bencana Alam pada Remaja Ancam Masa Depan Bangsa

Kompas.com - 12/10/2018, 21:08 WIB
Sejumlah personel Tim SAR menggali reruntuhan bangunan dan rumah untuk menemukan korban di lokasi likuifaksi Balaroa Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (11/10). Memasuki hari ke-14 pascagempa, tsunami dan likuifaksi di Palu, Donggala, dan Sigi, pemerintah menghentikan proses evakuasi korban, sedangkan tanggap darurat diperpanjang hingga dua pekan kedepan. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/ama/18BASRI MARZUKI Sejumlah personel Tim SAR menggali reruntuhan bangunan dan rumah untuk menemukan korban di lokasi likuifaksi Balaroa Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (11/10). Memasuki hari ke-14 pascagempa, tsunami dan likuifaksi di Palu, Donggala, dan Sigi, pemerintah menghentikan proses evakuasi korban, sedangkan tanggap darurat diperpanjang hingga dua pekan kedepan. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/ama/18

KOMPAS.com – Baru-baru ini, Indonesia dihantam dua bencana alam di Lombok dan di Palu. Bencana alam yang terjadi tidak hanya meluluhlantahkan bangunan dan merenggut ribuan jiwa. Di sisi lain, bencana alam juga berpengaruh pada masa depan bangsa.

Ketika bencana alam terjadi, maka struktur kehidupan pada individu yang terdampak akan berubah, khususnya pada remaja yang sedang mengalami perubahan pola pikir dan pencarian jati diri.

“Bencana alam membuat kehidupan berubah semuanya. Struktur pendukung pada remaja untuk tumbuh dan berkembang menjadi rusak, terutama struktur keluarga. Lalu struktur teman sebaya juga kocar-kacir. Ada yang hilang, ada yang pindah, ada yang meninggal. Jadi struktur kenyamanan remaja hilang,” ujar dr Tjhin Wiguna, psikiater anak dan remaja dari Departemen Medik Ilmu Kesehatan Jiwa, RSCM.

Bencana alam yang terjadi dapat merubah perasaan remaja yang sebelumya merasa aman menjadi penuh kekhawatiran. Selain itu, mereka juga cenderung penuh dengan rasa ketidakpastian akan masa depan yang akan mereka sambut.

Baca juga: Korban Gempa Donggala Butuh Psychological First Aid, Ini Artinya

“Dengan kehidupan yang berubah, mereka perlu penyesuaian diri. Artinya, transisi dalam kehidupan dia,” ujar dr. Tjhin yang ditemui pada kegiatan Mental Health Among the Youth, Jumat (12/10/2018).

Hal ini sudah terjadi sebelumnya pada tahun 2004 ketika bencana tsunami menyapu Aceh.

“Waktu saya ke sana, tiga bulan setelah tsunami terjadi, banyak orangtua cerita ke saya dan heran dengan perubahan perilaku dari anak-anaknya. Kebanyakan dari mereka menjadi susah tidur dan takut,” kata dr. Tjhin.

“Bahkan ada anak bernama Lisa (nama samaran) usia 13 tahun, dia harus mengurus dua adiknya yang masih kecil. Teman-temannya sudah tidak ada. Lalu, dia jadi dibebani tanggung jawab orangtua yang seharusnya belum saatnya dia emban,” sambungnya.

Melihat kondisi yang demikian, dr Tjhin menekankan akan pentingnya pertolongan pertama psikologi pada korban bencana alam, terutama pada sisi remaja. Pasalnya, banyak remaja yang setelah terjadi bencana merasa sendirian dan tidak memiliki informasi untuk mengambil langkah apa yang harusnya mereka tempuh setelahnya.

Baca juga: Gempa Palu, Bagaimana Ban Bekas Bisa Menghentikan Gedung Runtuh?

Pertolongan pertama psikologi adalah membina hubungan empatetik kepada korban bencana, memberikan perasaan nyaman, mengidentifikasi kebutuhan dan kekhawatiran saat ini, memberikan bantuan praktis, memberikan akses dukungan sosial, dan memberikan akses ke pusat layanan masyarakat.

Dokter Tjihin juga berkata bahwa pasca bencana alam yang terjadi merupakan masa transisi yang krusial dan tepat bagi mereka untuk mendapatkan dukungan. Dengan demikian, mereka dapat meneruskan apa yang mereka harapkan dalam hidup mereka.

“Karena bencana tidak bisa tahu pemulihannya berapa lama? Butuh berapa tahun? Mungkin puluhan tahun. Jadi remaja harus mendapatkan kepastian bahwa masa depan mereka tetap terjamin meski dalam kondisi terburuk dalam kehidupan mereka,” jelas dr Tjhin.

Saat ini, Kementerian Kesehatan dan Departemen Psikiatri RSCM tengah mengembangkan sebuah modul yang ditujukan pada anak-anak dan remaja supaya mereka dapat menyesuaikan diri dengan stres.

“Kita bisa melatih remaja, kalau stres terjadi dalam kehidupan mereka bagaimana menyiasatinya. Kita bisa latih sehingga ketika bencana terjadi, mereka punya keterampilan buat menghadapi stres tersebut. Program ini sudah dikembangkan sebenarnya, training of trainers kepada guru dan petugas kesehatan di 34 provinsi,” kata Tjihin.

Terakhir, Tjihin berpesan bahwa remaja merupakan aset penting yang tidak boleh menjadi gagal baik dalam pendidikan maupun mental.

“Kita nantinya tergantung remaja ini, remaja ini akan menggantikan kita. Dia yang akan mengurus negara ini. Kalau kondisi remaja banyak yang patah harapan, bagaimana kita bisa melanjutkan negara ini,” pungkasnya tegas.



Close Ads X