Gempa Palu, Bagaimana Ban Bekas Bisa Menghentikan Gedung Runtuh?

Kompas.com - 11/10/2018, 09:57 WIB
Dampak kerusakan akibat gempa Donggala dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9/2018), di Pelabuhan Wani 2, Kecamatan Tanatopea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMODampak kerusakan akibat gempa Donggala dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9/2018), di Pelabuhan Wani 2, Kecamatan Tanatopea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018).

Oleh Juan Bernal Sanchez

KOMPAS.com - Indonesia baru saja dilanda gempa berkekuatan 7,5 yang diikuti oleh tsunami yang besar dengan gelombang hingga 6 meter yang merusak Palu dan Donggala Sulawesi Tengah pada Jumat pekan lalu.

Diperkirakan setidaknya 1300 orang tewas, tapi jumlah korban tewas diperkirakan akan meningkat secara cepat dalam beberapa minggu ke depan mengingat begitu luasnya bangunan rusak dan tanah longsor yang terjadi akibat dari peristiwa seismik tersebut.

Pulau-pulau di Indonesia sedang menderita dengan adanya bencana baru bahkan tidak sampai dua bulan sejak bencana terakhir yang menyebabkan kesedihan mendalam di Pulau Lombok.

Pada saat artikel ditulis, setidaknya 555 orang meninggal setelah gempa berkekuatan 6,9 di Lombok dan setelah itu masih banyak gempa susulan. Lebih lanjut, 2.500 orang-orang dirawat di rumah sakit dengan luka serius dan lebih dari 270.000 orang telah mengungsi untuk sementara waktu.

Gempa bumi adalah salah satu bencana alam paling mematikan, terhitung hanya 7,5% peristiwa semacam itu terjadi antara 1994 dan 2013 dan menyebabkan 37% korban meninggal.

Dalam berbagai kejadian bencana alam, bukan negara-negara yang paling sering mengalami bencana alam yang menderita kerugian paling besar. Jumlah orang tewas di suatu negara dari bencana alam terkait dengan seberapa majunya negara tersebut.

Di Lombok, seperti di Nepal pada 2015, banyak kematian yang disebabkan oleh rumah yang tidak berdiri dengan kokoh sehingga tidak mampu menahan guncangan susulan. Secara umum, bangunan berkualitas rendah dan perencanaan kota yang tidak memadai adalah dua alasan utama mengapa peristiwa seismik lebih merusak di negara-negara berkembang.

Menanggapi masalah ini, saya dan rekan-rekan sedang bekerja untuk menciptakan fondasi bangunan murah yang lebih baik dalam menyerap energi gempa dari dalam bumi dan juga dapat mencegah struktur runtuh saat gempa bumi.

Baca juga: Ahli Konfirmasi, Rusa Berkeliaran di Kota Palu karena Gempa

Bahan utama dari fondasi ini adalah karet dari ban bekas, yang sebagian besar sangat sulit untuk dibuang secara aman dan sebagian besar dikirim ke tempat pembuangan akhir atau dibakar, melepaskan karbon dioksida dalam jumlah besar dan gas beracun yang mengandung logam berat.

Campuran tanah-karet

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X